Ambon, Dharapos.com – Upaya Pemerintah Kota Ambon dalam memperluas akses air bersih sebagai salah satu program prioritas Wali Kota dan Wakil Wali Kota akhirnya menunjukkan hasil nyata.
Kolaborasi antara Perumdam Tirta Yapono dan Dinas PUPR Kota Ambon berhasil membawa harapan baru bagi warga di kawasan perbukitan Kudamati Atas dan Kesia, yang selama puluhan tahun belum pernah menikmati air bersih.
Setelah melalui proses pembangunan jaringan yang cukup menantang, air bersih kini telah berhasil dialirkan ke dua wilayah tersebut. Peresmian resmi direncanakan berlangsung minggu depan sehingga warga diharapkan sudah dapat menikmati layanan air bersih sebelum Natal. Bagi masyarakat yang ingin menjadi pelanggan, Tirta Yapono juga menyiapkan survei minat setelah peresmian dilakukan.
Plt. Direktur Perumdam Tirta Yapono, Pieter Saimima, mengungkapkan bahwa dirinya bersama Kepala Dinas PUPR Kota Ambon, M. Latuhamallo, turun langsung meninjau progres pengembangan jaringan air bersih tersebut. Ia menegaskan bahwa capaian ini merupakan jawaban bagi kebutuhan masyarakat yang selama ini bergantung pada sumber air tidak layak dan pasokan terbatas.

Menurut Pieter, meski jaringan utama telah berfungsi, beberapa kekurangan teknis akan tetap disempurnakan pada 2026. Namun ia optimistis, dengan komitmen pemerintah dan kerja sama lintas OPD, seluruh wilayah perbukitan yang memungkinkan untuk dibangun jaringan air bersih akan diselesaikan sesuai target.
“Program prioritas Wali Kota adalah akses air bersih. Targetnya, pada 2030 masyarakat Kota Ambon tidak lagi mempersoalkan ketersediaan air bersih,” ujarnya, Kamis (11/12/2025) usai melakukan peninjauan.
Ia menjelaskan bahwa air untuk Kudamati Atas dan Kesia bersumber dari Wainitu, dengan jarak penyaluran mencapai 4,1 kilometer.
Sementara itu, Kepala Dinas PUPR Kota Ambon, M. Latuhamallo, menambahkan bahwa sesuai skala prioritas anggaran, ada dua lokasi yang dipastikan menjadi titik pengembangan debit air pada tahun 2026, yakni Lateri dan Wayame. Ia menyebut sejumlah wilayah lain seperti Wainitu, Amahusu, dan Waringin juga diusulkan, namun Lateri dan Wayame menjadi fokus utama karena kebutuhan yang lebih mendesak.
Latuhamallo menegaskan bahwa Kudamati Atas dan Kesia termasuk wilayah paling riskan terkait ketersediaan air bersih.
“Kami melihat langsung bagaimana masyarakat di dua wilayah ini bertahun-tahun menghadapi keterbatasan air. Karena itu, begitu jaringan bisa dibangun, kami prioritaskan percepatan pekerjaannya. Ini bentuk komitmen kami menjawab kebutuhan paling mendasar warga,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa sebagian wilayah lainnya telah dilayani Tirta Yapono, sementara daerah seperti Kebun Cengkeh nantinya akan ditangani DSA.
(dp-53)













