Papua, Dharapos.comBerdasarkan peta Agro Ekologi Zone (AEZ) kurang lebih 8,4 Juta hektar potensi lahan tanaman pangan dan hortilkultura yang dimiliki Pemerintah Provinsi Papua dalam menyediakan pangan bagi masyarakat di tanah Papua.
![]() |
| Elia I. Loupatty |
“Jika dimungkinkan kita bisa kontribusi secara nasional,” kata Asisten II bidang Perekonomian dan Kesejahteraan Rakyat, Setda Papua Elia I. Loupatty pada acara forum SKPD Dinas Tanaman Pangan dan Holtikutura se-Provinsi Papua, belum lama ini.
Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Papua, jelas dia, selama beberapa tahun terakhir ini, nampak pembangunan tanaman pangan dan holtikultura di Provinsi Papua telah berjalan secara baik.
Selain itu juga, angka produksi beberapa komoditas tanaman pangan dan holtikultura cenderung mengalami peningkatan dan penurunan.
“Jadi, Komoditas kedelai ini perlu mendapatkan perhatian kita semua, karena kita masih sangat bergantung pada kedelai impor dan memiliki nilai ekonomi yang unggul,” jelasnya.
Dikatakannya, Ubi jalar dan sagu merupakan pangan pokok orang Papua, perlu juga menjadi perhatian semua pihak. Program hilirisasi komoditas ubi jalar perlu di dorong secara baik, misalnya sudah saatnya industri tepung ubi jalar hadir di Provinsi Papua.
Selain itu, program pengembangan buah merah dimulai dari menyiapkan benih dalam jumlah cukup, mendorong dan membina petani untuk menanam buah merah.
“Pemerintah Provinsi Papua mengharapkan program pengembangan buah merah ini mendapatkan dukungan luas dari seluruh masyarakat,”ungkap Loupatty.
Pengairan, pupuk dan balai penelitian harus mendukung para petani, sehingga yang diharapkan bisa tercapai.
“Saya rasa kita harus sepakat dan majukan serta menyejahterakan para petani. Khusus untuk para petani orang asli Papua. Orang teknik di lapangan sangat mengetahuinya dan saya harap mereka banyak tau, untuk membina dan mendampingi,” ucapnya.
Lebih lanjut, kata Loupatty, saat ini harus ada pendampingan terhadap orang asli Papua.
“Itu sebenarnya keliru dan tidak tepat, hanya dengan cara-cara pendampingan akan menjadikan orang asli yang dulunya belum menjadi petani yang profesional, dia akan lebih profesional dan ini tujuan kita,” terangnya.
(Piet)





