Opini

Artikulasi Perempuan dalam Perjuangan

4
×

Artikulasi Perempuan dalam Perjuangan

Sebarkan artikel ini
IMG 20260817 WA0014 scaled

“Sekarang kita harus benar-benar mengadakan pembagian pekerjaan. Kau bersama anak-anak harus tinggal di rumah saja. Kau cukup terdidik dalam pergerakan nasional, sehingga kau pasti mengerti konsekuensi dari Proklamasi hari ini. Kalau sampai aku tidak pulang, kau tahu apa yang harus kau kerjakan. Semoga kita semua selamat.”

Demikian pesan Sudiro, Sekretaris Pribadi Achmad Subardjo, kepada istrinya menjelang Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, sebagaimana dicatat dalam buku Seputar Proklamasi Kemerdekaan: Kesaksian, Penyiaran dan Keterlibatan Jepang (2015:73).

Pesan tersebut tentu tidak dimaksudkan untuk menempatkan perempuan sebagai sosok yang tidak memiliki arti dalam perjuangan kemerdekaan. Pesan itu juga tidak dapat dimaknai sebagai upaya menempatkan perempuan semata-mata pada wilayah domestik—dapur, kasur dan sumur. Sebaliknya, pesan tersebut menyiratkan satu hal penting: sebuah perjuangan memiliki konsekuensi dan membutuhkan pembagian peran. Dalam situasi perjuangan, perempuan justru memiliki posisi penting untuk memastikan kehidupan, keluarga, bahkan cita-cita perjuangan tetap berjalan.

Perjuangan menuju Kemerdekaan Republik Indonesia tidak hanya diisi oleh tokoh-tokoh laki-laki seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Diponegoro maupun Thomas Matulessy. Sejarah juga mencatat keberanian dan pengorbanan perempuan seperti Cut Nyak Dien dari Aceh, Dewi Sartika dari Jawa Barat, Rasuna Said dari Sumatera Barat dan Christina Martha Tiahahu dari Maluku.

Mereka bukan sekadar nama dalam buku sejarah. Mereka adalah perempuan yang memilih berdiri di tengah situasi sulit, mengambil risiko, dan memberikan tenaga serta pikiran bagi perjuangan di wilayahnya masing-masing.

Peran perempuan bahkan hadir dalam momentum yang sangat menentukan perjalanan bangsa. Di balik pengibaran Bendera Pusaka Merah Putih menjelang detik-detik Proklamasi, terdapat tangan seorang perempuan, Fatmawati, yang menjahit Sang Saka Merah Putih dengan mesin jahit tangan. Dalam kondisi hamil tua, ia tetap menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan penuh ketekunan.

Ada pula S.K. Trimurti, tokoh pergerakan sekaligus wartawan dan aktivis yang memiliki peran dalam perjuangan kemerdekaan serta penyebarluasan berita Proklamasi. Perempuan-perempuan tersebut menunjukkan bahwa perjuangan tidak selalu harus berada di medan pertempuran. Perjuangan dapat hadir melalui keberanian, pendidikan, tulisan, pekerjaan, pengabdian dan keteguhan menjaga masa depan.

 

Semangat Patriotisme Perempuan Harus Mendorong Kemajuan Bangsa

Jika pada masa perjuangan kemerdekaan perempuan berhadapan dengan kolonialisme dan penjajahan, maka tantangan perempuan Indonesia hari ini memiliki bentuk yang berbeda.

Perempuan tidak lagi harus mengangkat senjata dan turun ke medan perang yang penuh nyala api. Namun, semangat perjuangan itu tidak boleh padam. Ia harus dinyalakan dalam ruang pendidikan, kemandirian ekonomi, kepemimpinan publik, politik, serta perjuangan menciptakan ruang yang aman bagi generasi penerus.

Kemerdekaan tidak hanya berarti terbebas dari penjajahan. Merdeka juga berarti memiliki kebebasan untuk menyampaikan pendapat tanpa rasa takut terhadap ancaman maupun diskriminasi. Merdeka berarti memiliki kesempatan menentukan masa depan tanpa paksaan dan tanpa perlakuan yang membatasi hanya karena seseorang adalah perempuan.

Karena itu, perjuangan perempuan di era kemerdekaan harus menjadi spirit bagi perempuan Indonesia masa kini untuk menggunakan hak yang sama sebagai manusia.

Dalam bidang pendidikan, setiap perempuan memiliki hak untuk mendapatkan kesempatan belajar setinggi-tingginya secara setara dan tanpa diskriminasi gender.

Dalam ruang publik dan politik, perempuan memiliki hak untuk memilih dan dipilih, terlibat dalam proses demokrasi, ikut merumuskan kebijakan serta mengambil bagian dalam implementasinya.

Dalam dunia pekerjaan, perempuan memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk memperoleh fasilitas, tunjangan, upah yang layak, serta menduduki posisi strategis sesuai dengan kompetensi dan kapasitasnya.

Data statistik tahun 2025 menunjukkan bahwa keterwakilan perempuan dalam sejumlah posisi kepemimpinan strategis masih berada pada angka yang belum sepenuhnya mencerminkan komposisi perempuan dalam populasi Indonesia. Di ruang eksekutif, keterwakilan perempuan berada pada kisaran 17 hingga 29 persen pada sejumlah posisi kepemimpinan strategis di birokrasi, pemerintahan maupun sektor swasta.

Sementara di ruang legislatif, keterwakilan perempuan periode 2024–2029 mencapai sekitar 21,9 persen atau sekitar 127–130 kursi di tingkat pusat. Angka ini menunjukkan adanya kemajuan, namun masih membutuhkan dorongan agar keterwakilan perempuan dapat semakin mendekati kuota 30 persen.

Di ruang yudikatif, secara kuantitatif perempuan berada pada kisaran 28–29 persen, sementara keterwakilan pada posisi kepemimpinan masih berada pada kisaran 21–24 persen.

Angka-angka tersebut memperlihatkan bahwa perjalanan menuju kesetaraan masih panjang. Kemajuan memang telah terjadi, tetapi perjuangan belum selesai.

Kehadiran perempuan dalam berbagai bidang kehidupan memberikan arti yang mendalam. Perempuan adalah pelopor peradaban yang terus memberikan nilai dan makna dalam setiap fase perjuangan. Perempuan menjadi bagian penting dari perubahan sosial, pendidikan, ekonomi, politik, kebudayaan dan pembentukan nilai-nilai moral di tengah masyarakat.

Karena itu, semangat patriotisme perempuan tidak boleh berhenti pada romantisme sejarah. Kisah Cut Nyak Dien, Christina Martha Tiahahu, Fatmawati, S.K. Trimurti dan para perempuan pejuang lainnya harus menjadi energi untuk menghadirkan perempuan yang berdaya, mandiri, berpendidikan dan berani mengambil peran dalam menentukan arah bangsa.

Dalam setiap lembar sejarah Kemerdekaan Republik Indonesia, kita akan terus diingatkan pada satu kenyataan: perempuan bukanlah penonton sejarah. Perempuan adalah bagian dari mereka yang menulis sejarah.

 

Dan hari ini, sejarah itu masih terus ditulis.

 

Eltin Tanalepy, A.Md., S.AP

Aktivis Perempuan Maluku

(Sekretaris DPD KNPI Provinsi Maluku 2018–2021)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *