Ambon, Dharapos.com – Upaya menekan angka stunting di Kota Ambon terus dilakukan hingga menyentuh tingkat kelurahan. Salah satunya melalui penguatan peran Posyandu sebagai ujung tombak pelayanan dan pemantauan tumbuh kembang anak.
Ketua Tim Pembina Posyandu Kota Ambon, Lisa Wattimena, kembali turun langsung ke lapangan untuk memastikan upaya tersebut berjalan. Kali ini, Lisa mengunjungi Posyandu Beringin VI, Kelurahan Wainitu, Selasa (6/10/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Lisa didampingi sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkup Pemerintah Kota Ambon. Kehadiran mereka untuk melihat langsung pelayanan Posyandu sekaligus memastikan penerapan enam Standar Pelayanan Minimal (SPM) berjalan dengan baik.
Namun, perhatian utama dalam kunjungan tersebut juga diarahkan pada persoalan stunting.
Di Kelurahan Wainitu terdapat sembilan Posyandu. Dari pendataan yang ada, tercatat 13 anak mengalami stunting.
Terhadap 13 anak tersebut, Lisa menyerahkan bantuan sebagai bentuk perhatian dan dukungan bagi keluarga dalam upaya memenuhi kebutuhan anak.
Lisa mengajak para orang tua untuk tidak mengabaikan tumbuh kembang anak dan memanfaatkan pelayanan Posyandu secara rutin. Menurutnya, pemantauan sejak dini penting agar kondisi anak dapat diketahui dan ditangani secara tepat.
Ia juga berharap orang tua tidak berjalan sendiri dalam menghadapi persoalan tumbuh kembang anak, tetapi aktif berkoordinasi dengan kader Posyandu maupun tenaga kesehatan.
Kepada para kader Posyandu, Lisa mengajak agar terus aktif melakukan pendampingan kepada masyarakat, khususnya keluarga yang memiliki anak dengan masalah pertumbuhan maupun yang masuk dalam kelompok berisiko.
Persoalan stunting sendiri masih menjadi perhatian Pemerintah Kota Ambon. Berdasarkan data Pemkot Ambon, jumlah kasus stunting tercatat 279 kasus pada 2025 dan turun menjadi 271 kasus pada Februari 2026.
Sementara berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI), prevalensi stunting Kota Ambon berada pada angka 19,7 persen pada 2024.
Angka tersebut menunjukkan bahwa penanganan stunting masih membutuhkan kerja bersama dan berkelanjutan, tidak hanya melalui intervensi pemerintah, tetapi juga keterlibatan keluarga dan masyarakat.
Lisa juga menegaskan bahwa keberadaan Posyandu tidak hanya berkaitan dengan pelayanan kesehatan. Posyandu dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi secara langsung.
Dengan begitu, pemerintah dapat mengetahui kondisi masyarakat dari dekat dan mengambil langkah sesuai kebutuhan.
“Posyandu bukan hanya soal kesehatan, tetapi persoalan masyarakat juga bisa disampaikan secara langsung,” ujarnya.
Melalui penguatan Posyandu, pendampingan keluarga dan perhatian terhadap anak-anak yang mengalami stunting, Pemerintah Kota Ambon terus mendorong agar persoalan stunting dapat ditekan secara bertahap.
(dp-53)














