Politik dan Pemerintahan

“Yelim” ke Paroki Ohoijang, Bupati Thaher Ajak Masyarakat Lestarikan Adat Kei

114
×

“Yelim” ke Paroki Ohoijang, Bupati Thaher Ajak Masyarakat Lestarikan Adat Kei

Sebarkan artikel ini

Bupati Malra Yelim Paroki Ohoijang
Rombongan Pemkab Malra yang dipimpin Bupati M. Thaher Hanubun disambut langsung oleh Pastor Paroki Ohoijang, dewan gereja, panitia peresmian, tokoh pemerintahan, tokoh adat dan masyarakat, serta umat dengan tarian Sawat dan lagu-lagu daerah Kei.

Langgur, Dharapos.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Maluku
Tenggara (Malra) menjalankan tradisi “Yelim” ke umat Paroki Ohoijang.

Bupati setempat M. Thaher Hanubun memimpin langsung prosesi
adat tersebut, Jumat (11/6/2021) sore.

Turut mendampingi, Sekretaris Daerah Ahmad Yani Rahawarin.

Yelim atau gotong royong bersama ini bertujuan untuk
membantu umat Paroki Ohoijang dalam rangka penthabisan dan pengresmian Gereja
St Joseph yang agendanya direncanakan akan berlangsung beberapa hari kedepan.

Dalam proses jalan Yelim tersebut, mulai dari Bupati,
pimpinan OPD hingga seluruh ASN lingkup Malra yang terlibat berbusana adat khas
Kei.

Rombongan Pemkab disambut langsung oleh Pastor Paroki Ohoijang,
dewan gereja, panitia peresmian, tokoh pemerintahan, tokoh adat dan masyarakat,
serta umat dengan tarian Sawat dan lagu-lagu daerah Kei.

Yelim Pemkab berupa makanan mentah khas Kei seperti enbal
lulun, umbi-umbian, pisang, berbagai jenis sayuran, ikan, ayam, kambing,
rempah-rempah, dan masih banyak lagi.

Bahan-bahan makanan itu diletakan di dalam kabot (kamboti)
dan Nyiru.

Yelim tersebut kemudian diterima dan diberkati oleh Pastor
Paroki Ohoijang RD. Sandro Letsoin.

Bupati Malra Yelim Paroki Ohoijang2
Yelim Pemkab berupa makanan mentah khas Kei seperti enbal lulun, umbi-umbian, pisang, berbagai jenis sayuran, ikan, ayam, kambing, rempah-rempah, dan masih banyak lagi

Bupati dalam pernyataannya menekankan, Yelim adalah tradisi
yang harus dijaga turun-temurun karena merupakan jati diri orang Kei.

 “Kebanyakan dari
kita, cenderung menerima yang baru, lalu melupakan yang lama. Kita tidak sadar
bahwa banyak hal dari yang lama telah menjadi kekayaan yang tak ternilai
harganya,” sambungnya.

Bupati pun mengingatkan serta mengajak seluruh masyarakat di
wilayah itu untuk tetap menghargai dan melestarikan budaya Kei yang menjadi
kekayaan daerah.

“Dan Itu dimulai dari seluruh jajaran Aparatur Sipil Negara,”
pungkas bupati.

Perlu diketahui, Yelim adalah nama atau istilah yang
diberikan leluhur sebagai pengikat antara keluarga yang satu dengan keluarga
yang lainya untuk saling tolong menolong bantu membantu disaat keluarga
melaksanakan satu pekerjaan besar maupun kecil.

Yelim merupakan tradisi 
pemberian sukarela entah bahan makan atau uang yang merupakan tradisi
orang Kei turun temurun.

(dp-52)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *