Berita Pilihan Redaksi

Gubernur : Maluku Negeri yang Kokoh Karena Toleransi

58
×

Gubernur : Maluku Negeri yang Kokoh Karena Toleransi

Sebarkan artikel ini
Gub Mal KKP GPI
Gubernur Ir. Said Assagaff saat memberikan paparan pada Pertemuan Raya dan Perkemahan Nasional Pemuda-Mahasiswa Gereja Protestan di Indonesia dalam rangka Perayaan HUT GPI ke 412, di Bumi Perkemahan Siwalima, Airlouw, Nusaniwe, Kota Ambon, Kamis (2/3)

Ambon, Dharapos.com
Maluku kini menjelma menjadi negeri yang kokoh dan kuat karena eratnya toleransi yang terbangun dengan indahnya.

Hal itu dibuktikan dengan suksesnya sejumlah even keagamaan nasional yang pernah digelar di daerah ini.

Mulai dari Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXIV yang berlangsung di Ambon 8-15 Juni 2012, Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional XI di Ambon 2-12 Oktober 2015, dan yang baru saja usai digelar, Tanwir Muhammadiyah di Ambon 24 – 26 Februari 2017.

Demikian penegasan Gubernur Maluku Ir. Said Assagaff saat memberikan paparan pada Pertemuan Raya dan Perkemahan Nasional Pemuda – Mahasiswa Gereja Protestan di Indonesia dalam rangka Perayaan HUT Gereja Protestan Indonesia (GPI) ke 412, di Bumi Perkemahan Siwalima, Airlouw, Nusaniwe, Kota Ambon, Kamis (2/3).

Orang nomor satu di provinsi berjuluk “Seribu Pulau” ini kemudian mengisahkan soal kuatnya toleransi umat beragama di Maluku saat berlangsungnya event MTQ Nasional maupun Pesparawi Nasional.

Saat itu, umat Kristen dan Islam di Kota Ambon saling mendukung, sehingga membuat para tamu merasa aman dan nyaman berada di daerah ini.

“Peserta Pesparawi, ada yang kami tempatkan di kawasan pemukiman Muslim. Sebaliknya, saat MTQ, para pesertanya ada yang ditempatkan di kawasan Kristen. Bahkan peserta MTQ yang ditempatkan di wilayah Kristen itu, malah menjadi juara pada even tersebut,” puji pria yang dikenal sangat kokoh menjaga toleransi di negeri Raja-raja ini.

Bercermin pada pengalaman Maluku dengan pembangunan perdamaian, Gubernur katakan, Maluku lantas menjadi laboratorium kerukunan beragama terbaik di Indonesia.

“Bukan berlebihan tetapi ada cerita sukses tentang itu. Kami punya pengalaman yang cukup matang, untuk keluar dari konflik, yang kami rasakan cukup meninggalkan luka yang mendalam, yang menghancurkan peradaban kemanusiaan kami,” tandasnya.

Wujud fisik dari laboratorium tersebut, menurut Assagaff, sedang digagas pembangunan pemukiman multietnis dan agama, yang direncanakan dibangun di Desa Laha dan Hattu, Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon.

“Sekitar 500 rumah akan dibangun di perkampungan multi-etnis tersebut. Menteri PU sampaikan bahwa nanti bangun rumah dan Menteri Agama nanti bangun tempat ibadah. Di kampung itu akan kita tempatkan warga Muslim, Kristen, Hindu, Katolik, dan Budha. Semua di sana dari berbagai agama dan etnis,” tandasnya.

Karena itu, segala bentuk kejahatan yang mengatas namakan agama, tidak boleh ada lagi di muka bumi ini.

Gubernur pun menekankan bahwa untuk menjawab berbagai masalah yang dihadapi oleh agama-agama saat ini, sangat dibutuhkan forum dialog serta perjumpaan-perjumpaan yang intensif.

“Dan oleh sebab itu kami di Maluku mengintensifkan pertemuan-pertemuan agama-agama. Karena itu, sudah beberapa tahun ini kami meminta dan menggelar even keagamaan di daerah ini,” beber Gubernur, yang saat pemaparan di dampingi Kapolda Maluku Brigjen Ilham Salahudin dan Pangdam XVI/Pattimura Mayjen Doni Monardo.

Bahkan, mantan Sekda Provinsi Maluku telah mengusulkan agar ajang Muktamar juga bisa digelar di Maluku.

“Agar lewat pertemuan lintas agama seperti ini, kita bangun Maluku yang benar-benar aman, sejahtera, rukun, religius dan berkualitas,” tukasnya.


(dp-16)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *