Jayapura, Dharapos.com
Walikota Jayapura Dr. Benhur Tommi Mano, MM, Rabu (1/4) secara resmi menandai pengoperasian TPA Control Landfiil dan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) Koya Koso, Distrik Abepura, Provinsi Papua.
Control Landfiil dan IPLT ini di bangun di atas lahan seluas 20 Ha,yang merupakan bantuan Satker Penyehatan lingkungan Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Papua.
Lahan 20 Ha ini diperuntukkan bagi 4 sel Control Landfiil namun saat ini baru satu sel dan IPLT yang dibangun.
Selain itu, pada tahun 2015 ini Dinas Kebersihan dan Pemakaman Kota Jayapura juga akan melakukan pembangunan pagar dan kantor serta pos jaga sedangkan Dinas PU kota akan membangun akses jalan masuk ke areal TPA Control Landfiil.
Akses jalan tersebut juga akan dilakukan pengaspalan oleh Satker PL PU Provinsi serta membantu Pemkot 2 unit Eksapator dan satu buah Doozer.
Selain Walikota, turut hadir Pendeta, Kapolres Jayapura Kota, Ondoafi Koya Koso, kepala Distrik Abepura, Kepala Distrik Muara Tami dan sejumlah pimpinan SKPD di Lingkungan Pemkot Jayapura.
Kepada sejumlah wartawan, Walikota mengungkapkan di tahun keempat Pemerintahannya bersama Wakil Walikota, sesuai visi-misi telah terwujud beberapa program salah satunya terkait kebersihan kota.
“Atas kerja sama dengan Pemerintah Provinsi dalam hal ini Satker Penyehatan Lingkungan Dinas PU telah dibangun TPA Control Landfiil untuk mengolah sampah masyarakat dan sampah rumah tangga.
Dan hal ini sangat membantu Pemerintah kota Jayapura pada pengolahan sampah,” ungkapnya.
Pemkot, terang Walikota, pada awalnya telah membangun TPA yang berlokasi di wilayah kampung Nafri sebagai TPA pendamping yang mana seluruh sampah dibuang di TPA Nafri baru dipilah. Setelah itu baru dibawa ke TPA Koya Koso.
“Kami berharap agar sampah-sampah yang akan di bawa ke lokasi Control Landfiil sudah dilakukan pemilahan baik itu di setiap Distrik, kelurahan dan kampung. Anggaran DP2K yang akan dikucurkan juga kalau bisa sebagian disisihkan untuk membeli kantong plastik sebagai wadah pembagian sampah menurut jenis,” harapnya.
Setiap RT/RW juga harus dibagikan kantong plastik agar mereka dapat memilah sampah sehingga saat di bawa ke Control Landfiil sudah merupakan sampah terpilih.
“Karena sampah kebanyakan berasal dari sampah rumah tangga. Apalagi, jumlah penduduk kota Jayapura yang sangat besar sudah barang tentu akan menghasilkan sampah yang sangat banyak jumlahnya,” ungkapnya.
Dengan dibukanya TPA Control Landfiil maka akan membuka lowongan dan menyerap tenaga kerja.
“Saat ini tenaga kerja yang telah direkrut sebanyak 50 orang. Mereka inilah yang bertugas untuk memilah sampah sebelum dimasukan ke dalam Control landfiil,” terang Walikota.
![]() |
| Lokasi TPA Koya Koso |
Ditegaskannya, para pemulung dilarang masuk ke arel Control Landfiil.
“Harapan kami juga agar Control landfiil ini bisa berfungsi hingga 7-8 tahun ke depan sehingga harus dijaga agar tidak berpindah ke pendamping seperti di kabupaten lain,” harap Walikota.
Sementara itu, Kadis Kebersihan dan Pemakaman kota, Jakobus Itaar menjelaskan volume sampah yang dibuang ke TPA Control Landfiil baru 200 ton perhari.
“Karena TPA Nafri sebagai TPSP skala perkotaan artinya sampah yang di bawah dari kota Jayapura di pilah di TPA Nafri baru di buang ke Koya Koso,” jelasnya.
PPK Persampahan dinas PU Provinsi Papua, Melki Sorongan juga menambahkan bahwa pembangunan TPA terbagi dua yakni Sel dan Lindi.
“Sel tersebut telah diproteksi agar tidak terjadi pencemaran ke air tanah atau badan tanah,” tutupnya.
(Harlet)







Wah mantap pengolahan sampahnya di tpa, kalau pengangkut (truk)nya ada t4 hasil pilahan di rumah tangga lebih sip lagi ya. Karena dr rmh tangga dipilah…di truk di campur yo samimawon rek….