![]() |
| Aksi demo damai Jurnalis Papua |
Papua, Dharapos.com
Ratusan wartawan yang tergabung dalam Solidaritas Jurnalis Papua baik dari media lokal dan nasional melakukan aksi demo damai terkait aksi penganiayaan dan pengancaman oleh Bupati Kabupaten Biak Numfor, Thomas AE. Ondy.
Aksi penganiayaan tersebut dilakukan sang Bupati terhadap wartawan Cenderawasih Pos (Cepos) Biro Biak, Fiktor Palembangan, Sabtu (9/5) terkait pemberitaan di koran harian Cepos Jayapura tentang kasus kebakaran di Pasar Inpres – Biak, beberapa waktu lalu.
Aksi demo damai para kulit tinta di Taman Imbi Kota Jayapura, Senin (11/5) ini mendesak aparat kepolisian dalam hal ini Polda Papua untuk segera mengusut tuntas tindakan premanisme sang Bupati.
Sebagai tanda solidaritas, para jurnalis Papua melakukan aksi long march keliling area patung pembebasan Yos Sudarso, dengan membawa sejumlah pamflet.
“Mansar Bupati Mamorasine Awer Boy Mambemesri be iwara artinya Jangan Pikir Hari ini saja tetapi pikir kedepannya lagi,” demikian pernyataan sikap pada salah satu pamflet yang diusung para pendemo.
Selain itu juga, pada pamflet lainnya tertulis: “Stop Kekerasan Terhadap Pers, Kami minta Bupati Biak diadili, Pejabat Bertangan Bestu Harus Disingkirkan dari Tanah Papua, Solidaritas Wartawan terhadap Premanisme Wartawan Biak Numfor. Polda Papua Harus Proses Hukum Terhadap Bupati Biak Numfor. Kalo Bukan Mambri Jangan Jadi Bupati Biak Numfor”.
Koordinator demo yang juga wartawan Cepos, Isak Womsiwor dalam orasinya menegaskan, aksi yang dilakukan ini sebagai wujud keprihatinan terkait kasus kekerasan terhadap jurnalis di Papua.
“Kami meminta kepada aparat kepolisian untuk mengusut tuntas kasus yang menimpa wartawan Cenderawasih Pos Biro Biak,”tegasnya.
Dikatakan Isak, kasus yang saat ini dialami Fiktor bukanlah kasus kekerasan pertama yang dialami jurnalis di tanah Papua karena sampai saat ini belumlah terungkap siapa pelaku kekerasan terhadap pekerja pers.
Pimpinan Redaksi Cepos, Yonathan kepada wartawan di sela – sela aksi demo damai ini, mengharapkan proses hukum yang dialami anak buahnya itu tetap berjalan, karena semua sama di mata hukum tanpa pandang bulu.
“Jangan ada tebang pilih,”tegas dia kepada wartawan.
Yonathan berharap kasus ini dapat segera dilimpahkan ke Polda Papua, karena akan berat kalau diselesaikan di Polres Biak. Mengingat pelaku penganiayaan ini menyangkut dengan pemimpin di Kabupaten tersebut.
![]() |
| Para jurnalis membubuhkan tanda tangan dukungan |
Disinggung jika ada upaya damai dari Bupati Thomas Ondim, Nathan panggilan akrabnya menegaskan bahwa semuanya akan diserahkan ke ranah hukum.
“Proses hukum harus tetap berjalan dan kami telah menunjuk Hendrik Tomasoa sebagai penasehat hukum,”tukasnya.
Sementara itu Ketua AJI Kota Jayapura, Viktor Mambor mengaku turut prihatin atas kasus yang dialami wartawan Cepos yang dilakukan Bupati Biak Numfor, Thomas Alfa Edison Ondy.
“Langkah yang akan diambil AJI Kota Jayapura adalah melaporkan kepada Dewan Pers di Jakarta. Selain itu AJI juga akan kembali mengumpulkan sejumlah kasus kekerasan yang dialami wartawan di Papua saat melakukan tugas jurnalistiknya,”tegasnya.
Untuk diketahui alasan Bupati Biak melakukan aksi penganiayaan dan pengancaman terhadap Fiktor Palembangan dikarenakan, sang bupati tidak puas dengan pemuatan berita Kebakaran Pasar Inpres yang dianggap tidak mengakomodir penanganan yang telah dilakukan oleh Pemerintah.
(Piet)















Bgaimana Cara bergabung/menjadi anggota komunitas wartawan Biak?
Minta pencerahannya!!
Email saya :(natanielwambrauw@gmail.com)
Terma kasih