![]() |
| Ketua Tim Arkeolog, Marlon Ririmase |
Saumlaki, Dharapos.com
Balai Arkeologi Ambon menerjunkan para arkeolog ke sejumlah pulau terluar yang berbatasan langsung dengan Australia guna mencari jejak awal migrasi manusia prasejarah dari daratan Asia melalui wilayah tersebut ke benua Kangguru.
Diantaranya, kepulauan Babar, Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) dan kepulauan Tanimbar di Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB).
Tim yang terdiri dari Marlon Ririmasse, Lucas Watimewa, Ratno Siahaan, Ericoram Lekatompesy, Karoline Johanes dan Ketut Udiyasa dalam melaksanakan penelitian tersebut sebagai bagian dari kegiatan rutin atau reguler seperti yang telah dilaksanakan di tahun-tahun sebelumnya.
“Saat ini penelitian terhadap arkeolog di pulau-pulau terluar teristimewa pulau yang berbatasan langsung dengan Australia yakni di kepulauan Babar dan Kepulauan Tanimbar. Di Babar nanti kita dahulukan sesuai hitungan transportasi yang ada, lalu kemudian jika masih ada waktu barulah kita lakukan penelitian pada salah satu titik di Tanimbar,” ungkap ketua Tim Arkeolog Marlon Ririmasse di Saumlaki, Selasa (29/8).
Kepulauan Tanimbar termasuk salah satu gugus pulau di selatan Maluku dan merupakan jembatan darat yang menghubungkan antara kepulauan Kei, Aru dan Papua dengan Kepulauan Babar, Sermatang hingga Timor dan Nusa Tenggara.
Berbatasan langsung dengan Australia, Kepulauan Tanimbar juga merupakan kawasan tapal batas terluar Nusantara dan juga dikenal dengan ragam pusaka budaya yang kaya.
Sementara, kepulauan Babar merupakan gugus pulau terluar di Maluku yang berada dekat dengan benua Australia, dan dari aspek bentang daratan, Babar termasuk salah satu pulau yang dekat dengan Australia. Juga, memiliki nilai strategis secara geografis dan geohistoris.
Penelitian arkeologis di pulau ini belum pernah dilakukan sehingga dipandang penting karena dari segi nilai sejarah budaya, pulau yang berbatasan dengan Australia tersebut memiliki karakter masyarakat yang mirip dengan karakter masyarakat di kepulauan Tanimbar maupun beberapa wilayah di Maluku Tenggara.
“Yang sudah kita miliki saat ini adalah beberapa data “Awal” tetapi itu data di pulau Masela, padahal jika ditinjau dari segi arkeologi prasejarah, pulau Babar itu merupakan salah satu titik penting yang mesti ditinjau karena termasuk salah satu daratan yang paling dekat dengan Australia sehingga bisa menjadi salah satu titik yang bisa menjelaskan proses migrasi manusia dari Asia ke Australia itu seperti apa,” sambungnya.
Selanjutnya, lingkungan yang ada di pulau Babar itu memiliki potensi kawasan karst yang tinggi, dan memungkinkan adanya situs-situs gua besar dan berpotensi menyimpan peninggalan-peninggalan arkeologi yang menjanjikan serta bernilai prasejarah yang tinggi.
“Sesuai pengamatan lingkungan dari peta, maka fokus kita nanti ke Babar Timur yakni di desa Kroin dan sekitarnya. Kegiatan ini dilaksanakan selama dua pekan hingga minggu kedua bulan September 2017,” tambah Ririmase.
Ia menambahkan juga, beberapa waktu lalu pihaknya telah melakukan penelitian di pulau Masela, salah satu pulau di gugusan kepulauan Babar.
Hasil penelitian menunjukkan pulau Masela memiliki tiga karakter khas dalam kaitan dengan potensi arkeologis di wilayah tersebut yakni konstruksi dan distribusi pemukiman kuno, jejak penguburan tradisional, dan situs- situs terkait sejarah lokal hingga peninggalan-peninggalan era kolonial Belanda yang masih terlihat dengan jelas.
(dp-18)













