as

Opini

Meritokrasi Birokrasi : Wali Kota Dan Wakil Wali Kota Ambon Dengan Komitmen Pembangunan 

11
×

Meritokrasi Birokrasi : Wali Kota Dan Wakil Wali Kota Ambon Dengan Komitmen Pembangunan 

Sebarkan artikel ini
IMG 20250829 WA0103

Ingatan kita tentu masih hangat dengan Pelantikan dan Pengukuhan Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama oleh Wali Kota Ambon, Bodewin M Wattimena sepekan lalu. Pelantikan dan Pengukuhan ini didasari Surat Keputusan Wali Kota Ambon Nomor 3337 tahun 2025 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan PNS dari dan dalam Jabatan Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama dalam Lingkup Pemerintah Kota Ambon tertanggal 21 Agustus 2025.

Serangkaian acara pelantikan itu tentu menjadi bagian dari catatan perjalanan bahkan sejarah kepemimpinan Birokrasi seorang Bodewin Wattimena dan Ely Toisutta selaku Wali Kota dan Wakil Walikota Ambon.

as

Apa yang menarik dari momentum ini ?

“Melihat keluar, disamping kedalam”, adalah sebuah langkah bijak yang dilakukan oleh Wali Kota dan Wakil Wali Kota Ambon dalam membentuk Tim Kerja. Tidak saja mengenali berbagai kekuatan, kelemahan, hambatan dan peluang yang dimiliki atau dihadapi pemerintah (Sebagaimana ditawarkan oleh SWOT analysis), namun juga untuk memaksimalkan pengembangan kapasitas institusi (Institutional Capacity Building) sebagai bentuk pertanggung jawaban terhadap mandat rakyat dalam membangun sistem Birokrasi.

Hal menarik pertama

Pelantikan ini sekilas membawa kembali ingatan kita pada momentum Pilkada 2024, terjadi pertarungan begitu sengit antara seluruh kandidat untuk meyakinkan masyarakat warga kota Ambon. Tidak hilang dari catatan bahwa dua dari empat calon Wali Kota asalnya  ‘Birokrat Murni’ dengan kekuatan Politik Internal  masing – masing dilingkup Pemerintahan. Hal ini tentu akan menjadi ketakutan besar bagi mereka yang berbeda pilihan politiknya dari yang akan memenangkan pertarungan PILKADA.

Namun jauh berbeda dari pola kekuasaan pada umumnya yang akan langsung meng-kick out lawan dalam lingkaran, justru Wali Kota dan Wakil Wali Kota Ambon tidak hanya menampakan kepiawan politiknya, tapi juga kedewasaan cara berpikir orang – orang yang matang secara intelektual dan emosional, bahwa pertarungan telah usai. Kontestasi kala itu, masing – masing kita adalah kekuatan-kekuatan besar dengan tujuan dan maksud yang besar untuk Kota Ambon yang semakin besar, dengan jalan yang berbeda.  Hingga akhirnya ada pada satu saja,  Bodewin Wattimena dan Ely Toisutta, Walikota dan Wakil Walikota Ambon. Langkah bijak diambil pemimpin Kota Ambon, yakni menghimpun seluruh kekuatan yang sebelumnya terkotak-kotak dijadikan 1 kekuatan besar untuk mewujudkan Beta Par Ambon, Ambon Par Samua.

Hal menarik kedua

Suatu tempat memiliki muatan sosial majemuk yang dapat diekspresikan dalam istilah-istilah simbolis dan muatan ini sendiri ditentukan berdasarkan historis.  Agustine Berque mengatakan Suatu Tempat Memiliki Dimensi Simbolis. Pemilihan Lokasi Pelantikan di Terminal Transit Passo bukan serta merta tiba saat tiba akal atau kehabisan tempat pelantikan di wilayah Kota Ambon. Lokasi ini dipilih untuk memberi pesan politik kepada seluruh masyarakat Kota Ambon, bahwa ada mimpi dan harapan besar untuk mewujudkan keberlangsungan pemerintahan yang Ideal dengan memperhatikan berbagai aspek, baik peningkatan mutu dan kualitas sumber daya manusia, pelayanan publik efektif, namun juga menyediakan infrastruktur yang representatif dan memadai bagi para penyelenggara pemerintah.

Terminal Transit adalah aset pemerintah Kota yang tidak sempat terselesaikan pembangunannya, namun dalam cita-cita besar Wali Kota dan Wakil Wali Kota Ambon, tempat ini akan dirubah menjadi salah satu simbol Pemerintah Kota dimasa mendatang.

Ketiga, Meritokrasi Birokrasi

Dengan Visi besar ‘Ambon Manise, yang Inklusif, Toleran dan Berkelanjutan’,  terejawantahkan dalam 17 program prioritas, tentu tidak akan bisa diwujudkan jika hanya dikerjakan oleh Wali Kota dan Wakil Wali Kota atau sekelompok orang saja.

Dalam penyampaian Pidato Wali Kota Ambon yang begitu epic, terstruktur, tersistematis dan tanpa teks, Walikota Ambon menekankan bahwa perombakan Birokrasi ini dilakukan dengan metode Meritokrasi Birokrasi : elemen kunci pengelolaan ASN untuk menciptakan birokrasi yang profesional dan berdaya saing. Sistem meritokrasi ini adalah salah satu tool untuk membangun birokrasi yang bersih. Sehingga Para Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama ini telah melalui sejumlah pentahapan uji kompetensi secara profesional dan transparan serta memenuhi aspek kinerja, kecerdasan maupun kompetensi.

Birokrasi yang efektif dan efesien membutuhkan kerjasama seluruh elemen dalam lingkup pemerintahan.

Melalui pidato epik Wali Kota Ambon, masyarakat bisa menangkap pesan sederhana : Kita Sudah Selesai Dari Bilik Suara, Saatnya Membangun Masa Depan” 

Eltin Tanalepy

Aktivis Perempuan Maluku

(Sekretaris DPD KNPI Provinsi Maluku 2018-2021)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *