Ambon, Dharapos.com – Aksi berani menolak simbol Republik Maluku Selatan (RMS) ditunjukkan seorang warga Negeri Aboru, Kabupaten Maluku Tengah. Welhemina Rumra/Sinay nekat memanjat tower setinggi 72 meter demi menurunkan bendera RMS yang dikibarkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Aksi tersebut dilakukan atas inisiatif pribadi Welhemina yang merasa terusik dengan berkibarnya simbol RMS di wilayahnya. Ia menilai pengibaran bendera tersebut tidak hanya meresahkan masyarakat, tetapi juga berpotensi mengganggu citra Negeri Aboru yang selama ini menginginkan kedamaian serta tidak ingin kembali terseret dalam isu separatisme masa lalu.
Tanpa menggunakan alat pengaman, Welhemina meniti tower hingga puluhan meter untuk menyingkirkan bendera tersebut. Keberaniannya pun mendapat perhatian dan apresiasi karena dinilai menjadi bentuk spontan penolakan masyarakat terhadap simbol-simbol yang dianggap dapat memicu keresahan.
Lebih dari sekadar aksi nekat, tindakan Welhemina mengirimkan pesan bahwa masyarakat Aboru memiliki sikap yang beragam terhadap isu RMS. Anggapan bahwa seluruh masyarakat Aboru mendukung gerakan separatis dinilai tidak tepat. Sebaliknya, terdapat masyarakat yang secara terbuka menunjukkan penolakan terhadap propaganda dan simbol-simbol RMS.
Sebagai seorang ibu yang anaknya akan menjadi calon prajurit TNI, Welhemina juga ingin memastikan masa depan generasi muda Aboru tidak terganggu oleh provokasi maupun isu separatisme.
Baginya, penolakan terhadap simbol RMS bukan semata-mata karena instruksi aparat keamanan, tetapi juga lahir dari kesadaran masyarakat yang menginginkan kehidupan yang aman, damai, dan terbebas dari konflik masa lalu.
Atas keberanian tersebut, Pangdam XV/Pattimura turut memberikan apresiasi kepada Welhemina atas komitmennya menjaga ketenteraman di Negeri Aboru.
Aksi Welhemina di puncak tower setinggi 72 meter itu pun menjadi gambaran bahwa penolakan terhadap simbol-simbol separatis juga dapat tumbuh dari masyarakat sendiri. Pesan yang disampaikan sederhana namun tegas: masyarakat Aboru menginginkan kedamaian dan masa depan yang lebih baik tanpa kembali terjebak dalam isu separatisme.
(dp-53)













