Ambon, Dharapos.com – PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) Persero akan melihat tingkat kepadatan penumpang kapal menuju Saumlaki, ibukota Kabupaten Kepulauan Tanimbar.
Hal itu mengingat telah dilakukannya Peletakan Batu Pertama (Ground Breaking) proyek pengembangan lapangan gas abadi Blok Masela di Desa Lermatang, Kamis (16/7/2026).
Dengan telah dilakukannya kegiatan tersebut, arus pekerja yang akan terlibat langsung dengan proyek strategis Nasional (PSN) itu semakin banyak dan tentunya memerlukan sarana transportasi tujuan kabupaten dengan Bumi Duan Lolat.
Kepala Bagian Operasional PELNI Ambon Rajab mengatakan, untuk kapal yang melayani rute ke Saumlaki itu ada dua yakni KM Pangrango dengan kapasitas 500 penumpang dan KM Leuser berkapsitas 1000 penumpang.
“Untuk penambahan armada angkutan itu harus dari perintah pusat. Apakah ada kapal yang didefisiasikan ke rute tersebut, kami juga akan melihat volume penumpang ke sana. Dan untuk tambahan kapal tujuan tersebut, harus dikonsultasikan ke Dirjen Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan,” bebernya.
Untuk diketahui, pada 2012 sejak ditemukanya kandungan emas di kawasan Gunung Botak, Kabupaten Buru memicu orang berbondong-bondong mendatangi bumi penghasil kayu putih tersebut.
Dan banyaknya orang yang datang dari seluruh penjuru Nusantara dengan tujuan Gunung Botak memanfaatkan kapal PELNI.
Salah satunya KM Lambelu dimana jumlah penumpang melebihi kapaitas kapal itu sendiri yakni hampir 3000 orang.
Dan kalau kapal tersebut bersandar di pelabuhan Ambon, tampak terlihat banyak orang yang berada di area yang tidak diperuntukan untuk tidur penumpang yaitu sekoci dan lainya, yang sangat menyalahi aturan keselamatan pelayaran.
Seiring berjalannya waktu, pihak PELNI akhirnya menetapkan rute pelayaran KM Lambelu yang semula Baubau – Ambon – Namlea menjadi Baubau – Namlea – Ambon. Dengan demikian, banyaknya penumpang tujuan Namlea pada saat itu dapat langsung turun di sana dan tidak lagi turun di Ambon sambil menunggu kapal feri ke Namlea.
(dp-19)













