Ambon, Dharapos.com – Tok. Benang ditarik. Tok. Pola dirapatkan. Tangan Lusy Kormasela kembali bergerak, menyusun benang demi benang hingga perlahan membentuk motif pada selembar kain.
Sesekali perempuan berusia 25 tahun itu menghentikan pekerjaannya. Matanya memeriksa susunan benang, memastikan pola tetap berada pada tempatnya. Setelah yakin, ia kembali menenun.
Kamis, 1 Oktober 2026 siang, di teras rumah berukuran sekitar 2 x 4 meter di Desa Tawiri, Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon, aktivitas itu berlangsung seperti hari-hari sebelumnya.
Di dinding, beberapa kain tenun dengan warna dan motif berbeda terpajang. Di dekatnya, alat tenun menjadi saksi bagaimana pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi terus dipraktikkan.
Bagi orang yang melihatnya sekilas, Lusy mungkin hanya seorang perempuan muda yang sedang menenun. Namun, di balik gerakan tangannya, ada persoalan yang jauh lebih besar: bagaimana sebuah warisan budaya tetap hidup ketika generasi yang mewarisinya harus berhadapan dengan perubahan zaman?
Lusy bukan sekadar membuat kain. Ia sedang menjaga sesuatu yang diterimanya dari sang ibu, sekaligus mencari cara agar keterampilan itu tetap memiliki masa depan.
Di rumah yang sama, ibunya, Weli Malihu (56), masih aktif menenun. Dua anggota keluarga lainnya juga ikut mengerjakan kain. Adik Lusy yang masih duduk di bangku SMP mulai belajar keterampilan tersebut.
Rumah itu menjadi ruang produksi sekaligus ruang belajar. Pengetahuan berpindah bukan melalui buku petunjuk, melainkan melalui kebiasaan: melihat, mencoba, melakukan kesalahan, memperbaiki, lalu mengulanginya.
Dari ibunya, Lusy belajar mengenali pola, menyusun benang, dan memahami proses menenun. Kini, di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa semester akhir Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, ia tetap menyisihkan waktu untuk menenun hampir setiap hari.
Keputusan itu tidak sekadar berkaitan dengan pekerjaan keluarga. Lusy memahami bahwa keterampilan yang tidak lagi dipraktikkan berisiko kehilangan penerus.
“Kasihan kalau warisannya tidak dilestarikan,” ujarnya.
Kalimat pendek itu menyimpan alasan mengapa ia tetap bertahan di depan alat tenun, meskipun kehidupannya sebagai mahasiswa membuka banyak kemungkinan lain.
Warisan yang Menyimpan Identitas
Keluarga Lusy berasal dari Larat, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku. Dari lingkungan keluarga inilah pengetahuan mengenai tenun Tanimbar diwariskan dan terus dipraktikkan di Tawiri.
Tenun ikat Tanimbar merupakan bagian dari kekayaan budaya Maluku. Kementerian Kebudayaan melalui Sistem Pendataan Kebudayaan Terpadu mencatat Tais Pet sebagai kerajinan tradisional yang berkaitan dengan sejarah, pengetahuan menenun, dan tradisi pewarisan kain di masyarakat Tanimbar.
Salah satu unsur yang menarik ialah motif Lelemuku, yang terinspirasi dari bunga anggrek atau bunga larat. Dalam tradisi masyarakat Tanimbar, bunga tersebut memiliki makna budaya dan menjadi inspirasi bagi penciptaan motif tenun.
Sementara itu, motif Tunis berarti anak panah dalam bahasa Tanimbar.
Bagi Kelompok Tenun Ikat Mawar, pengetahuan tersebut menjadi dasar untuk mengembangkan sekitar 20 motif. Menurut Lusy, beberapa motif yang dikembangkan kelompok antara lain cengkeh, pala, tahuri, kakehang, perahu kapata, Lelemuku, dan Tunis.
“Yang paling terkenal di Tanimbar itu Lelemuku. Dan motif Tunis yang dalam Bahasa Tanimbar artinya anak panah,” kata Lusy.
Pada 19 Januari 2023, Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM mengumumkan pencatatan lima motif Tenun Ikat Tanimbar sebagai Kekayaan Intelektual Komunal (KIK), bersama Tarian Maku-Maku dari Maluku.
Pencatatan tersebut menunjukkan pentingnya mengenali dan menjaga ekspresi budaya tradisional yang juga memiliki potensi ekonomi.
Namun, pelestarian tidak berhenti pada pencatatan nama atau motif. Pengetahuan itu harus terus dipraktikkan, diwariskan, dan diperkenalkan kepada masyarakat.
Di sinilah tantangan yang dihadapi Lusy dan keluarganya menjadi relevan.
Kain tradisional tidak cukup hanya disimpan sebagai benda budaya. Agar tetap hidup, harus ada orang yang mampu membuatnya, generasi yang bersedia mempelajarinya, serta pasar yang memberi nilai pada pekerjaan di balik pembuatannya.
Dari Kain Lembaran Menjadi Produk Siap Pakai
Sebelum mendapatkan pendampingan, Kelompok Tenun Ikat Mawar lebih banyak memproduksi dan menjual kain dalam bentuk lembaran. Model tersebut memiliki pasar tersendiri, tetapi pilihan produk yang terbatas membuat kelompok perlu mencari cara lain untuk menjangkau konsumen.
Perubahan selera pasar menjadi tantangan yang harus dijawab. Tidak semua konsumen mencari kain untuk disimpan atau digunakan sebagai bahan pakaian. Sebagian membutuhkan produk yang dapat langsung dikenakan, sementara yang lain tertarik pada aksesori dengan sentuhan budaya lokal.
Kelompok pun mulai memperluas pemanfaatan kain. Tenun yang sebelumnya dijual dalam bentuk lembaran dikembangkan menjadi pakaian siap pakai atau ready to wear, syal, dan rompi.
Perubahan itu membutuhkan keterampilan tambahan. Menghasilkan kain dengan motif yang baik tidak otomatis membuat seseorang mampu mengubahnya menjadi pakaian yang siap dipasarkan.
Melalui pendampingan Aviation Fuel Terminal (AFT) Pattimura, PT Pertamina Patra Niaga, anggota kelompok memperoleh pelatihan menjahit. Kain yang mereka produksi sendiri kemudian diolah menjadi produk dengan bentuk dan fungsi yang lebih beragam.
“Kita diberi pelatihan menjahit. Kemudian dari situ kita coba buat ready to wear. Kainnya kita produksi sendiri, kemudian berlanjut ke ready to wear,” kata Lusy.
Dari sini, kelompok mulai melihat kain bukan hanya sebagai produk akhir, melainkan juga sebagai bahan baku untuk menghasilkan produk lain.
Potongan kain yang tersisa diolah menjadi gelang, anting-anting, kalung, hingga gantungan kunci. Sisa produksi yang sebelumnya berpotensi tidak termanfaatkan memperoleh kemungkinan penggunaan baru.
Satu keterampilan membuka jalan bagi keterampilan lainnya. Menenun dilanjutkan dengan menjahit, kemudian pengembangan desain dan pembuatan aksesori.
Bagi kelompok, diversifikasi produk bukan sekadar mengikuti tren. Langkah itu menjadi upaya memperluas kesempatan agar tenun dapat menjangkau konsumen dengan kebutuhan dan kemampuan belanja yang berbeda.
Tradisi tidak harus ditinggalkan ketika pasar berubah. Yang perlu dicari adalah cara agar identitasnya tetap terjaga, sementara bentuk pemanfaatannya berkembang.
Pewarna Alami, Tantangan Baru bagi Perajin
Perubahan juga menyentuh proses pewarnaan.
Imam Satrio, Community Development Officer AFT Pattimura, mengatakan salah satu persoalan yang menjadi perhatian dalam pendampingan adalah penggunaan pewarna sintetis. Kelompok kemudian didorong untuk mengenal alternatif pewarna alami yang berasal dari tumbuhan.
“Masalah awalnya, kain tenun ini juga banyak yang menggunakan pewarna sintetis yang tidak sustainable. Makanya kami memberikan pendampingan agar ada pewarna yang lebih ramah lingkungan,” kata Imam.
Bahan alami seperti secang, kunyit, dan indigo dimanfaatkan untuk menghasilkan warna merah atau merah muda, kuning, dan biru.
Pilihan tersebut memperluas pengetahuan produksi sekaligus mengenalkan alternatif bahan pewarna. Namun, perubahan proses tidak selalu berarti pekerjaan menjadi lebih mudah atau harga produk menjadi lebih murah.
Lusy menyebut harga selendang dengan ukuran yang sama berada di kisaran Rp175 ribu untuk pewarna sintetis, sedangkan selendang dengan pewarna alami dapat mencapai sekitar Rp250 ribu.
Perbedaan harga itu menghadirkan tantangan tersendiri. Konsumen perlu memahami bahwa harga produk tidak hanya ditentukan oleh ukuran kain, tetapi juga bahan dan proses pembuatannya.
Kelompok harus mampu menjelaskan mengapa produk dengan pewarna alami memiliki harga berbeda. Mereka perlu memperkenalkan bahan yang digunakan, proses pengerjaan, dan nilai yang melekat pada produk tersebut.
Pameran dan media sosial menjadi sarana untuk melakukan edukasi sekaligus pemasaran.
Di sini, pekerjaan penenun meluas. Mereka tidak hanya dituntut menghasilkan kain yang baik, tetapi juga memahami cara memperkenalkan produk, menjelaskan keunggulannya, dan membangun hubungan dengan konsumen.
Sebab, produk yang memiliki nilai budaya dan melalui proses produksi panjang tetap membutuhkan pasar yang bersedia menghargainya.
Pertamina Membuka Ruang bagi Pengembangan Usaha
Kelompok Tenun Ikat Mawar merupakan mitra binaan AFT Pattimura melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL/CSR) Pertamina.
Menurut Imam, kelompok tersebut pada awalnya terdiri atas empat orang. Setelah mendapatkan pendampingan, jumlah anggotanya berkembang menjadi sekitar 20 orang.
Pendampingan dimulai pada 2024 dan direncanakan berlangsung hingga sekitar 2029.
Program tersebut mencakup pengembangan keterampilan produksi, pelatihan menjahit, pembuatan produk turunan, pengenalan pewarna alami, penanaman sumber bahan pewarna, serta perluasan pemasaran.
“Selain itu juga meningkatkan pendapatan keluarga yang ada di sekitar sini,” ujar Imam.
Bagi kelompok, dukungan tersebut membuka kesempatan untuk mengembangkan usaha yang sebelumnya lebih berfokus pada kain lembaran.
Salah satu ruang pemasaran yang dimanfaatkan adalah pameran. Pada 16–18 April 2026, Kelompok Tenun Ikat Mawar mengikuti Semarak Layanan Artha dan UMKM Maluku (SALAM FEST) 2026 di Ambon melalui dukungan AFT Pattimura.
Dalam pemberitaan berbagai media pada 21 April 2026 melaporkan keikutsertaan kelompok tersebut dalam ajang yang diinisiasi Bank Indonesia Perwakilan Maluku. Produk yang diperkenalkan mencakup kain tenun premium dan aksesori berbahan tenun dengan pewarna alami.
Keikutsertaan dalam pameran menjadi salah satu jalan untuk memperkenalkan produk kepada calon pembeli sekaligus memperluas jejaring pemasaran.
Bagi perajin, ruang seperti ini juga dapat menjadi tempat membaca respons konsumen terhadap motif, warna, dan bentuk produk yang ditawarkan.
Namun, keikutsertaan dalam pameran belum dengan sendirinya menjamin keberlanjutan usaha. Produk perlu terus dikembangkan, kualitas dijaga, dan akses pasar diperluas agar kegiatan produksi dapat berlangsung secara konsisten.
Pendampingan karena itu perlu dilihat melalui perubahan yang benar-benar dirasakan kelompok, bukan semata-mata jumlah pelatihan atau kegiatan yang terlaksana.
Ketika Warisan Budaya Memberi Nilai Ekonomi
Lusy menyebut perubahan model usaha ikut berdampak terhadap pendapatan kelompok.
Menurut keterangannya, sebelum pengembangan produk siap pakai dan produk turunan dilakukan, pendapatan kelompok berada pada kisaran Rp20 juta hingga Rp24 juta per bulan. Setelah pengembangan produk, angka tersebut disebut mencapai sekitar Rp38 juta hingga Rp40 juta per bulan.
“Karena bukan cuma bantuan yang didapat, tapi peluang pasarnya terbuka lebih luas,” ujar Lusy.
Angka tersebut merupakan keterangan narasumber mengenai kondisi kelompok. Periode pembanding, metode penghitungan, serta apakah angka itu merujuk pada omzet atau pendapatan bersih perlu dipastikan melalui pembukuan kelompok agar dampak ekonominya dapat dinilai secara lebih akurat.
Meski demikian, pengalaman yang diceritakan Lusy memperlihatkan pentingnya menghubungkan pelestarian budaya dengan pengembangan usaha.
Ketika kain dapat dipasarkan dalam beragam bentuk, kesempatan menjangkau konsumen juga bertambah. Ketika keterampilan menjahit berkembang, anggota kelompok memperoleh kemampuan baru. Ketika produk dikenal melalui pameran dan media sosial, terbuka ruang untuk memperkenalkan tenun kepada masyarakat yang lebih luas.
Nilai ekonomi menjadi salah satu faktor yang dapat mendorong keberlanjutan tradisi. Namun, nilai tersebut perlu berjalan bersama perlindungan identitas budaya dan penerusan pengetahuan kepada generasi berikutnya.
Sebab, tujuan akhirnya bukan hanya membuat lebih banyak produk terjual. Yang juga penting adalah memastikan keterampilan menenun tetap dipraktikkan dan memberi manfaat bagi keluarga yang menjalaninya.
Regenerasi yang Dimulai dari Rumah
Di rumah Lusy, regenerasi tidak hadir dalam bentuk program besar. Ia berlangsung melalui hubungan antara seorang ibu dan anak-anaknya.
Weli masih menenun. Lusy meneruskan keterampilan yang dipelajarinya. Adiknya yang masih SMP mulai mengenal pekerjaan yang sama.
Tiga generasi berada dalam lingkungan yang memungkinkan pengetahuan itu diteruskan melalui praktik sehari-hari.
Bagi Imam, keberadaan orang-orang yang mampu menggerakkan dan mengembangkan kelompok menjadi bagian penting dari keberlanjutan program.
“Untuk keberlanjutan sendiri, kami memastikan selalu adanya regenerasi local hero di kelompok. Jadi kelompok tenun ini tidak hanya berhenti pada satu tokoh sendiri,” katanya.
Imam menyebut Mama Weli dan Lusy sebagai local hero dalam Kelompok Tenun Ikat Mawar.
Peran mereka menunjukkan bahwa pendampingan dari luar perlu bertemu dengan kemauan masyarakat untuk terus menjalankan usaha. Pelatihan dapat memberikan keterampilan, dukungan dapat membuka akses, dan pameran dapat mempertemukan produk dengan pasar. Namun, kegiatan menenun harus tetap berlangsung di tangan para perajin.
Bagi Lusy, keberlanjutan itu berkaitan langsung dengan warisan keluarga. Ia tidak ingin pengetahuan yang diterimanya dari sang ibu berhenti pada satu generasi.
Tantangannya memang tidak ringan. Ia harus membagi waktu antara kuliah dan menenun. Kelompok juga harus menjaga kualitas produk, menghadapi perbedaan harga, mengikuti perubahan selera konsumen, dan mencari pasar yang dapat menopang kegiatan produksi.
Tetapi semua itu tidak membuatnya meninggalkan alat tenun.
Sebab, bagi Lusy, tradisi tidak akan bertahan hanya karena orang mengagumi keindahan hasilnya. Tradisi bertahan ketika masih ada orang yang bersedia mempelajari prosesnya dan meneruskannya.
Benang yang Belum Putus
Siang itu, Lusy kembali menunduk di depan alat tenunnya. Benang disusun. Pola diperiksa. Tangannya kembali bergerak.
Tok. Benang ditarik.
Tok. Pola dirapatkan.
Sehelai demi sehelai kain terbentuk di teras rumah sederhana itu.
Di ruang berukuran sekitar 2 x 4 meter tersebut, persoalan besar tentang masa depan warisan budaya berlangsung melalui pekerjaan yang terlihat sederhana. Seorang ibu menenun. Seorang anak belajar. Seorang mahasiswa tetap menyisihkan waktunya untuk menjalankan tradisi keluarga.
Sementara di luar rumah, pasar terus berubah. Konsumen memiliki selera baru. Produk dituntut semakin beragam. Perajin harus menemukan cara agar hasil kerja mereka tetap memiliki nilai ekonomi.
Tenun Tanimbar tidak hanya dituntut untuk tetap ada. Ia harus mampu beradaptasi tanpa kehilangan identitas, memberikan penghidupan bagi perajin, dan membuat generasi muda melihat bahwa tradisi tersebut masih memiliki masa depan.
Pendampingan dapat memberikan pelatihan. Program dapat membuka akses. Pameran dapat mempertemukan penenun dengan pasar. Namun, keberlanjutan pada akhirnya tetap berada di tangan masyarakat yang menjalankannya.
Di tangan para penenun. Di tangan keluarga. Dan di tangan generasi muda.
Lusy memahami hal itu. Ia tidak ingin tenun hanya menjadi benda yang suatu hari dipajang sebagai peninggalan masa lalu. Ia ingin terus menenun, meneruskan pengetahuan yang diwariskan ibunya, dan memberi kesempatan kepada adiknya untuk mengenal keterampilan yang sama.
“Kasihan kalau warisannya tidak dilestarikan,” ujarnya.
Tangannya kembali bergerak. Benang demi benang disusun. Motif perlahan muncul.
Di antara suara alat tenun dan aktivitas rumah, sebuah warisan sedang mencari jalan untuk tetap hidup.
Bukan hanya sebagai simbol budaya. Bukan hanya sebagai kain. Tetapi sebagai pengetahuan yang diwariskan, keterampilan yang menghasilkan, usaha yang menghidupi keluarga, dan identitas yang masih memiliki tempat di tengah perubahan zaman.
Benang itu belum putus. Dan Lusy sedang berusaha memastikan agar ia tidak putus di generasinya.
(dp-53)














