Dobo, Dharapos.com – Badan Gizi Nasional (BGN) Wilayah Kepulauan Aru merespon langsung laporan dugaan masalah pada menu makanan yang dikonsumsi siswa SD Negeri 6 Dobo.
Tim BGN bersama pihak SPPG dan Satgas Percepatan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) turun langsung ke sekolah itu, Senin (24/8/2026).
Pengecekan dilakukan setelah muncul laporan bahwa dua siswa mengalami gatal-gatal pada bagian mulut dan bibir usai mengonsumsi menu ikan dan sayur yang dibagikan dalam program MBG pada Jumat (21/8/2026) lalu.
Pertemuan berlangsung di ruang Kepala SDN 6 Dobo yang dihadiri Koordinator BGN Wilayah Kepulauan Aru Jordan Samloy, perwakilan Satgas dari Dinas Ketahanan Pangan, pihak SPPG Durjela, serta Plt. Kepala SDN 6 Dobo Yustus Simon Sedubun, S.Th serta pihak sekolah lainnya.
Jordan Samloy dalam keterangannya, mengatakan pihaknya menerima laporan terkait kejadian tersebut pada Jumat malam sekitar pukul 19.00 WIT. Laporan itu, menurut dia, harus ditindaklanjuti dengan pengecekan langsung agar persoalan yang sebenarnya dapat diketahui secara jelas.
“Kita ingin cek langsung di lapangan supaya hal ini tidak terulang kembali. Anak yang mengonsumsi makanan harus betul-betul terhindar dari gangguan kesehatan dan keamanan pangan harus menjadi perhatian utama,” imbuh Samloy.
Ia menegaskan, pihak BGN terbuka terhadap setiap keluhan maupun masukan dari orang tua dan guru terkait pelaksanaan program MBG.
“Kalaupun ada keluhan, kalaupun ada masukan, kami terima. Kami siap evaluasi besar-besaran dan siap untuk tindak lanjut,” tegasnya.
Samloy juga mengajak pihak sekolah, guru, orang tua dan pengelola SPPG untuk memperkuat koordinasi sehingga pelaksanaan MBG dapat berjalan baik dan aman bagi siswa.
Plt. Kepala SDN 6 Dobo Yustus Simon Sedubun, menjelaskan bahwa pendataan siswa yang memiliki alergi terhadap makanan tertentu telah dilakukan sebelum program MBG berjalan.
Menurutnya, data tersebut mencakup siswa dari kelas I hingga kelas VI. Dari jumlah siswa yang mencapai lebih dari 600 orang, terdapat sekitar 30-an siswa yang telah terdata memiliki alergi tertentu.
“Semua data siswa dari kelas satu sampai kelas enam sudah ada, di dalamnya ada yang alergi dan bukan alergi,” jelasnya.
Yustus mengatakan, data alergi tersebut tidak hanya diperoleh dari siswa, tetapi juga dikonfirmasi kepada orang tua sebelum disampaikan kepada pihak pengelola MBG.
Setiap ompreng makanan, kata Sedubun, juga telah diberi penanda sesuai data alergi siswa sehingga menu yang mengandung bahan tertentu dapat disesuaikan.
Terkait kejadian Jumat lalu, Sedubun menyebut keluhan tersebut disampaikan setelah siswa sudah berada di luar lingkungan sekolah.
Kepsek juga menegaskan bahwa pihak sekolah selama ini telah mengingatkan siswa agar makanan MBG dikonsumsi sampai habis di sekolah dan tidak dibawa pulang.
“Kalau terjadi sesuatu setelah makanan dibawa pulang, itu sudah berada di luar jam sekolah. Karena itu kami selalu menyampaikan kepada siswa agar makanan dihabiskan di sekolah,” ujarnya.
Kepsek juga membantah adanya temuan makanan yang berbau busuk atau basi saat menu MBG tiba di SD Negeri 6 Dobo pada Jumat.
Dia mengatakan pihak sekolah melakukan pengecekan terhadap makanan yang datang, bahkan dirinya ikut mencicipi menu ikan dan makanan lainnya.
“Untuk makanan yang dikonsumsi tidak ada satu menu pun yang bau busuk dan sebagainya,” ungkapnya.
Menurut Kepsek, apabila ditemukan makanan dengan kondisi yang tidak layak, pihak guru maupun penanggung jawab MBG di sekolah akan segera menyampaikan laporan.
Namun, pada Jumat tersebut, menurut keterangan pihak sekolah, tidak ada laporan mengenai makanan yang berbau maupun adanya gangguan kesehatan yang terjadi saat siswa masih berada di sekolah.
Sementara itu, Kepala SPPG Durjela 02, Sontaria Balsala, memaparkan tahapan pengelolaan bahan makanan sebelum sampai ke tangan siswa.
Bahan baku diterima di SPPG dalam rentang pukul 18.00 hingga 22.00 WIT
(dp-31/kk)













