Utama

Dari Ketel Penyulingan ke Pasar Nasional, Pertamina Dampingi Perjuangan La Yapi Mengembangkan Minyak Atsiri Maluku

14
×

Dari Ketel Penyulingan ke Pasar Nasional, Pertamina Dampingi Perjuangan La Yapi Mengembangkan Minyak Atsiri Maluku

Sebarkan artikel ini
IMG 20261027 WA0001

Ambon, Dharapos.com – Aroma rempah yang menguar dari ketel penyulingan di Dusun Keranjang, Desa Wayame, Kecamatan Teluk Ambon, menyimpan cerita lebih panjang daripada sekadar proses mengolah tanaman menjadi minyak.

Di balik aroma minyak kayu putih, serai, cengkeh, dan nilam, ada warisan keluarga yang dipertahankan, perjuangan membangun usaha, serta harapan agar potensi lokal Maluku mampu memberikan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat.

as

Di tengah perjalanan itu, La Yapi (57) tidak berjalan sendirian. Kelompok Bunga Tani yang dipimpinnya mendapat pendampingan dari Pertamina Patra Niaga melalui Integrated Terminal Wayame. Dukungan tersebut menjadi bagian dari perjalanan kelompok dalam mengembangkan usaha penyulingan tradisional menjadi produk yang memiliki merek, kemasan, legalitas, dan jangkauan pasar lebih luas.

“Dari kakek sampai orang tua memang keluarga penyuling. Dulu kami tinggal di Namlea dan menyuling di sana,” ucap La Yapi kepada Dharapos.com di Ambon, Selasa (29/9/2026).

Kalimat itu menjelaskan dari mana semuanya bermula. Bagi La Yapi, penyulingan bukan keterampilan yang baru dipelajari ketika peluang bisnis terbuka. Ia merupakan pengetahuan keluarga yang diwariskan dari generasi ke generasi.

DSC00736 1 scaled
La Yapi

Setelah menetap di Ambon, La Yapi berusaha menghidupkan kembali tradisi tersebut. Pada 2015, ia mulai mencoba membudidayakan nilam. Setahun kemudian, usaha penyulingan dikembangkan lebih serius hingga memasuki tahap pemasaran.

Perjalanan itu tidak serta-merta membuat usahanya berkembang. Potensi bahan baku harus diikuti kemampuan produksi, ketersediaan peralatan, pengelolaan usaha, dan akses pasar. Produk yang dihasilkan juga perlu memenuhi persyaratan agar dapat dipasarkan secara lebih luas.

Di sinilah tantangan usaha kecil mulai terasa. Memiliki keterampilan menyuling belum tentu cukup untuk membuat sebuah usaha tumbuh dan bertahan.

Ketika potensi lokal bertemu pendampingan

Pertamina Integrated Terminal Wayame mulai memberikan dukungan kepada kelompok Bunga Tani pada 2023 melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).

Pada tahap awal, dukungan mencakup mesin pencacah, perbaikan rumah produksi, pelatihan penyulingan, serta pengadaan perlengkapan kelompok. Pada 2024, bantuan dilanjutkan dengan peralatan tambahan, termasuk mesin sensor dan tangki penampung air, disertai pendampingan pengurusan perizinan produk.

Program tersebut kemudian berkembang dengan pelatihan pemasaran digital pada 2025. Langkah ini penting karena produk yang memiliki potensi pasar juga membutuhkan cara pemasaran yang sesuai dengan perubahan perilaku konsumen.

Bagi Pertamina, pengembangan usaha masyarakat tidak cukup hanya dengan menyerahkan peralatan. Potensi dan persoalan yang dihadapi warga perlu dipahami sebelum program dijalankan.

Community Development Officer Pertamina Integrated Terminal Wayame, Risma Yusintia, menjelaskan bahwa program CSR Pertamina mencakup empat aspek utama, yakni lingkungan, ekonomi, sosial, dan keberlanjutan masyarakat.

IMG 20261027 WA0000
Risma Yusintia, Community Development Officer Pertamina Integrated Terminal Wayame

Sebelum menentukan bentuk pendampingan, Pertamina melakukan pemetaan sosial atau social mapping untuk mengidentifikasi potensi sekaligus persoalan yang dihadapi masyarakat.

“Dari pemetaan sosial kita lihat potensinya apa, kemudian permasalahan yang dihadapi apa,” ujar Risma.

Dari pemetaan tersebut, penyulingan minyak atsiri di Dusun Keranjang ditemukan sebagai salah satu potensi ekonomi lokal yang dapat dikembangkan. Kelompok telah memiliki keterampilan dan bahan baku, tetapi masih menghadapi kendala dalam produksi dan pemasaran.

Karena itu, pendampingan dilakukan secara bertahap, mulai dari sarana dan prasarana produksi, pelatihan pemasaran digital, pengemasan, penguatan merek atau branding, hingga pendampingan pengurusan izin.

“Mulai dari penyediaan sarana prasarana, kemudian kita dampingi dalam pelatihan, pelatihan digital marketing, bagaimana pemasarannya, kita juga memberikan pendampingan dalam pengurusan izin,” kata Risma.

Program pengembangan kelompok minyak atsiri tersebut dirancang berlangsung selama lima tahun. Saat wawancara dilakukan pada September 2026, program telah memasuki tahun keempat.

Targetnya, pada tahun kelima kelompok mampu berdiri mandiri, mengelola usaha, membeli bahan baku, membiayai proses produksi, dan memperluas pemasaran tanpa terus bergantung pada bantuan perusahaan.

“Target kami adalah supaya masyarakat ini berdaya, maju dan mandiri tanpa bergantung ke perusahaan lain,” ujarnya.

Dari produk curah menuju merek Duskar Wangi

Perubahan usaha Bunga Tani tidak berhenti pada peralatan produksi. Kelompok ini juga mengembangkan identitas produknya melalui merek Atsiri Duskar Wangi.

Empat produk utama yang dihasilkan ialah minyak kayu putih, minyak serai merah, minyak cengkeh, dan minyak nilam. Masing-masing memiliki karakteristik serta peluang pasar tersendiri.

Minyak nilam, misalnya, digunakan sebagai salah satu bahan baku industri parfum. Menurut La Yapi, permintaan terhadap produk tersebut meningkat ketika harga nilam mengalami kenaikan.

“Yang laku drastis itu minyak nilam karena harganya sedang melonjak. Karena merupakan bahan baku dari pembuatan parfum,” jelasnya.

Pemasaran produk Bunga Tani juga telah melampaui Ambon. Di Maluku, produk dijual secara eceran hingga Maluku Tengah. Sementara di luar daerah, pasar telah menjangkau Makassar, Sulawesi Tenggara, Sleman, dan Bandung melalui jaringan pembeli serta distributor.

Perkembangan penting lainnya terjadi pada aspek legalitas. Pada November 2025, tiga produk unggulan kelompok, yakni minyak kayu putih, minyak serai merah, dan minyak cengkeh, telah memperoleh izin edar BPOM. Pencapaian ini membuka peluang pemasaran yang lebih luas sekaligus meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk yang telah memenuhi persyaratan perizinan tersebut.

Bagi usaha kecil, merek dan kemasan memang membantu produk dikenali. Namun, legalitas juga menjadi bagian penting agar produk dapat dipasarkan sesuai ketentuan.

Perjalanan menuju tahap itu memperlihatkan bahwa pengembangan UMKM membutuhkan lebih dari satu bentuk dukungan. Peralatan membantu proses produksi, pelatihan memperkuat keterampilan, sedangkan pendampingan perizinan dan pemasaran membantu kelompok mempersiapkan diri menghadapi pasar yang lebih luas.

Mandiri bukan berarti tanpa tantangan

DSC00727 scaled
Proses penyulingan minyak atsiri di rumah produksi Dusun Keranjang, Desa Wayame, Kota Ambon

Meski telah mengalami perkembangan, perjalanan Bunga Tani belum selesai.

La Yapi mengungkapkan, keterbatasan modal dan kapasitas ketel penyulingan masih menjadi tantangan. Kemampuan mengolah bahan baku dalam jumlah lebih besar dibutuhkan agar kelompok dapat memenuhi permintaan pasar yang terus berkembang.

Bagi kelompok, peningkatan kapasitas produksi bukan semata-mata soal menambah jumlah minyak yang dihasilkan. Hal itu juga berkaitan dengan peluang menyerap bahan baku dari petani, memperluas jaringan pemasaran, dan meningkatkan pendapatan anggota.

Di sinilah arti kemandirian menjadi lebih konkret. Kelompok tidak hanya ditargetkan mampu menjalankan produksi ketika bantuan tersedia, tetapi juga harus memiliki kemampuan untuk merawat peralatan, membeli bahan baku, mengatur keuangan, dan membiayai produksi berikutnya dari hasil usaha.

Target tersebut menjadi semakin penting karena usaha ini tidak hanya menyangkut La Yapi secara pribadi. Ada anggota kelompok yang ikut menggantungkan harapan pada keberlangsungan kegiatan penyulingan.

Ia berharap usaha yang dibangun selama bertahun-tahun tidak berhenti pada dirinya, tetapi terus berkembang dan memberi manfaat bagi generasi berikutnya.

La Yapi juga mengajak masyarakat untuk semakin mengenal dan menggunakan produk lokal.

“Harapan kami, dengan adanya penyulingan minyak atsiri ini bisa memberikan motivasi kepada petani maupun pembeli. Mari kita gunakan produk lokal,” tuturnya.

Merawat warisan, membangun masa depan

Di Dusun Keranjang, minyak atsiri mempertemukan dua hal yang kerap berjalan beriringan dalam usaha masyarakat: pengetahuan tradisional dan kebutuhan untuk beradaptasi.

La Yapi membawa keterampilan yang diwariskan keluarganya. Kelompok Bunga Tani mengembangkan keterampilan tersebut menjadi usaha bersama. Sementara pendampingan Pertamina Integrated Terminal Wayame diarahkan untuk memperkuat kemampuan produksi, pengelolaan, legalitas, dan pemasaran agar usaha dapat bertahan dalam jangka panjang.

Keberhasilan perjalanan ini tidak cukup diukur dari tersedianya peralatan atau bertambahnya jenis produk. Ukuran penting lainnya ialah kemampuan kelompok mempertahankan produksi, menjaga kualitas, memperluas pasar, dan membiayai usahanya sendiri ketika masa pendampingan berakhir.

Bagi La Yapi, ketel penyulingan bukan sekadar alat untuk mengolah tanaman menjadi minyak. Di dalamnya ada warisan keluarga yang ingin terus hidup, harapan bagi anggota kelompok, serta peluang bagi petani lokal untuk memperoleh pasar.

Dari Dusun Keranjang, aroma rempah Maluku kini mengikuti perjalanan produk yang dipasarkan ke luar daerah. Perjalanan itu masih menyisakan pekerjaan rumah, terutama memperbesar kapasitas produksi dan memperkuat modal usaha.

Namun, arah yang ingin dituju sudah jelas: menjadikan potensi lokal sebagai sumber penghidupan yang berkelanjutan, bukan hanya bagi satu keluarga, melainkan juga bagi masyarakat yang tumbuh bersama usaha tersebut.

(dp-53) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *