Ambon, Dharapos.com — Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) kembali terjadi di kawasan Gunung Nona, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon, Senin (5/10/2026).
Kobaran api yang berada di kawasan RT 078/RW 07, tidak jauh dari tower pemancar TVRI, membuat petugas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) bersama BPBD Kota Ambon harus berjibaku hingga malam untuk mengendalikan api.
Hingga pukul 20.00 WIT, proses pemadaman masih berlangsung. Dua armada Damkar dan satu unit mobil tangki air BPBD dikerahkan ke lokasi.
Anggota DPRD Kota Ambon dari daerah pemilihan Nusaniwe, Jacoba Lekahena, turut turun langsung memantau proses pemadaman yang dilakukan petugas di kawasan tersebut.
Di tengah kondisi kemarau dan tingginya potensi kebakaran, Lekahena mengimbau masyarakat, khususnya warga Gunung Nona dan Kecamatan Nusaniwe, agar tidak melakukan pembakaran sampah, rumput maupun material lainnya yang berpotensi memicu kebakaran.

“Kita berdoa bersama supaya kerja-kerja lapangan yang dalam beberapa hari terakhir dilakukan petugas Damkar dan BPBD Kota Ambon untuk memadamkan api dampak Karhutla di daerah Pensip dan pemancar TVRI Gunung Nona maupun kawasan lain di Kecamatan Nusaniwe dan Kota Ambon umumnya bisa tertangani dengan baik dan maksimal,” ujar Lekahena.
Menurutnya, kondisi kemarau dengan intensitas panas yang tinggi membuat potensi meluasnya kebakaran semakin besar. Asap yang ditimbulkan Karhutla juga dapat mengganggu kualitas udara dan aktivitas masyarakat.
Karena itu, ia meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika melakukan aktivitas di luar rumah. Warga juga diimbau menggunakan masker, memperbanyak konsumsi air putih serta tidak membakar sampah secara sembarangan.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Ambon, Moh. Latupono, mengatakan kebakaran di Gunung Nona merupakan rangkaian dari Karhutla yang sebelumnya terjadi di kawasan Pensip.
Menurut Latupono, api diduga bermula dari aktivitas pembersihan lahan oleh seorang warga untuk membuka kebun, kemudian merembet hingga mendekati kawasan tower pemancar TVRI.
“Kebakaran ini rangkaian dari kebakaran kemarin di Pensip yang dilakukan oleh Bapak Ferdinand saat pameri atau buka lahan, yang kemudian merembet hingga kawasan tower TVRI,” kata Latupono.
Upaya pemadaman menghadapi sejumlah kendala. Kondisi medan yang terjal serta permukiman warga yang cukup padat membuat kendaraan pemadam tidak dapat dengan mudah menjangkau titik api.
Keterbatasan armada pengangkut air juga menjadi tantangan. Saat ini, BPBD hanya mengandalkan satu unit armada untuk mengangkut pasokan air dari kawasan Wainitu menuju lokasi kebakaran.
Latupono menyebutkan, sedikitnya terdapat empat titik Karhutla yang ditangani petugas pada Senin (5/10/2026), yakni kawasan STAIN, Passo, Gunung Nona atau sekitar pemancar TVRI, serta Pensip.
Lekahena pun mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama mengikuti imbauan pemerintah agar ancaman Karhutla di tengah kondisi kemarau dapat dikendalikan.
“Mari kita bekerja sama mengikuti imbauan dari pemerintah demi kebaikan kita bersama, agar persoalan Karhutla serta kemarau ini bisa kita lalui bersama,” pungkasnya.
(dp-53)














