Ambon, Dharapos.com – Keluhan warga Batu Gajah terkait tersendatnya distribusi air bersih akhirnya mendapat respons cepat. Direktur Perumda Tirta Yapono, Pieter Saimima, turun langsung ke lapangan dan menemukan fakta bahwa penurunan drastis debit air menjadi penyebab utama terganggunya pasokan ke rumah-rumah warga.
Peninjauan dilakukan pada Selasa (21/04/2026) di sejumlah titik sumber air, termasuk kawasan Batu Gajah hingga Kusu-kusu. Dalam kunjungan tersebut, Saimima didampingi Ketua Fraksi PDI-Perjuangan Kota Ambon Lucky L. Upulatu Nikijuluw bersama jajaran staf Perumda Tirta Yapono.
Dari hasil pengecekan, Saimima mengungkapkan bahwa sumber air berupa sumur yang selama ini diandalkan kini tak lagi mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
“Debit air dari sumur mengalami penurunan signifikan. Sumber ini tidak bisa lagi menyuplai hingga 700 kubik seperti sebelumnya. Bahkan waktu pengisian yang biasanya 18 sampai 20 jam, kini tidak mencapai kapasitas penuh,” jelasnya.

Sebagai langkah cepat, Perumda Tirta Yapono akan melakukan koneksi jaringan dari sumber air lain untuk memperkuat suplai ke wilayah terdampak.
“Kami akan sambungkan jaringan dari sumber lain ke sistem Batu Gajah. Dengan perhitungan yang ada, pengisian 700 kubik bisa dipercepat menjadi sekitar 10 jam. Ini akan membuat distribusi jauh lebih optimal,” ujarnya.
Saimima menegaskan, upaya ini merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Kota Ambon dalam menjawab kebutuhan dasar masyarakat akan air bersih.
“Kami tidak hanya memastikan air tersedia, tapi juga harus cukup untuk memenuhi kebutuhan warga. Ini menjadi prioritas bersama dengan Bapak Wali Kota,” tegasnya.
Perbaikan jaringan ini ditargetkan bisa segera terealisasi dalam waktu dekat.

“Kalau tidak ada kendala, awal hingga pertengahan Mei jaringan sudah terkoneksi dan bisa dimanfaatkan masyarakat,” tambahnya.
Tak hanya fokus pada solusi jangka pendek, Perumda Tirta Yapono juga menyiapkan langkah strategis jangka panjang guna mengantisipasi dampak musim kemarau.
“Kami merencanakan pembangunan sumur dalam di sekitar jaringan distribusi sebagai solusi berkelanjutan,” ungkap Saimima.
Ia menyebutkan, hingga tahun 2027 ditargetkan pembangunan sekitar 10 sumur dalam, dengan 4 hingga 5 sumur akan direalisasikan pada tahun 2026.
“Ini penting untuk mendukung target Pemkot Ambon dalam pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat hingga tahun 2030,” katanya.
Di sisi lain, Saimima juga menyoroti persoalan alih fungsi lahan yang dinilai turut memperburuk kondisi ketersediaan air.
“Berkurangnya vegetasi akibat pembangunan permukiman berdampak langsung pada sumber air. Di Batu Gajah, yang dulu airnya tidak pernah keruh saat hujan, sekarang mulai berubah,” jelasnya.
Untuk itu, pihaknya akan berkoordinasi dengan instansi terkait agar pembangunan ke depan tetap memperhatikan keberadaan dan perlindungan jaringan air bersih.
“Jaringan pipa ini infrastruktur vital. Harus ada pengawasan dalam setiap izin pembangunan agar tidak merusak sistem yang sudah ada,” tegasnya.
Saimima pun mengajak masyarakat untuk turut mendukung proses perbaikan yang tengah dilakukan.
“Kami butuh dukungan semua pihak. Karena air adalah kebutuhan bersama, mari kita jaga dan sukseskan upaya ini,” tutupnya.
(dp-53)













