Ambon, Dharapos.com – Rencana pembangunan sirkuit balap permanen di Kota Ambon mendapat sorotan Wakil Ketua DPRD Kota Ambon, Patrick Moenandar.
Politisi Partai Perindo itu tidak menolak rencana tersebut. Sebaliknya, ia menilai pembangunan sirkuit merupakan langkah positif untuk mendorong kemajuan olahraga otomotif sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi Kota Ambon.
Namun, Patrick meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon tidak terburu-buru menentukan lokasi pembangunan. Menurutnya, lokasi sirkuit harus dipilih melalui kajian komprehensif dengan mempertimbangkan aspek olahraga, pariwisata, lingkungan, aksesibilitas, luas lahan hingga dampaknya bagi masyarakat.
“Ini adalah momentum kemajuan otomotif dan meningkatkan PAD bagi kota ini. Jadi banyak hal harus dipertimbangkan. Seperti kata pepatah, sambil menyelam minum air,” kata Patrick Moenandar di Ambon, Senin (17/8/2026).
Patrick menilai, lokasi sirkuit sebaiknya memiliki kedekatan dengan kawasan yang memiliki potensi wisata. Sebab, kehadiran sirkuit permanen nantinya tidak hanya mendatangkan pembalap, tetapi juga penonton dan wisatawan dari luar daerah.
Menurutnya, lokasi yang direncanakan di Dusun Riang, Desa Tawiri, Kecamatan Teluk Ambon, masih perlu dikaji kembali. Salah satu pertimbangannya adalah potensi wisata di sekitar kawasan tersebut yang dinilai belum maksimal.
Selain itu, akses menuju kawasan Tanah Putih juga menjadi perhatian karena kondisi jalan yang relatif kecil.
“Kalau untuk sebuah sirkuit balap, lokasinya harus berdekatan dengan wilayah yang memiliki sumber potensi wisata. Sementara kalau lahan di Dusun Riang, Tawiri, potensi wisata di sekitarnya masih kurang dan akses ke lokasi Tanah Putih jalannya kecil. Baiknya rencana ini dikaji lagi,” ujarnya.
Patrick mengatakan, jika dibangun dengan perencanaan yang tepat, sirkuit permanen bisa menjadi salah satu penggerak ekonomi baru di Kota Ambon.
Kehadiran sirkuit berpotensi membuka lapangan kerja bagi masyarakat lokal, khususnya di sektor pariwisata dan jasa. UMKM juga dinilai akan memperoleh manfaat melalui tumbuhnya usaha kuliner, penginapan, transportasi, suvenir hingga berbagai usaha pendukung kegiatan otomotif.
Tidak hanya itu, pembangunan sirkuit juga dapat mendorong peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta mempercepat pembangunan fasilitas umum dan infrastruktur pendukung di sekitar kawasan.
“Kalau ada sirkuit permanen, maka akan ada banyak pembalap dari luar daerah yang berdatangan untuk berlomba di sini. Fraksi Perindo mendukung pembangunannya, tapi semua aspek harus diperhatikan secara komprehensif,” tegasnya.
Menurut Patrick, kebutuhan lahan untuk sebuah sirkuit permanen diperkirakan minimal 3 hingga 5 hektare. Ia menilai kebutuhan tersebut masih memungkinkan dipenuhi jika Pemkot Ambon membuka komunikasi dengan para kepala pemerintahan negeri atau raja-raja di Kota Ambon.
Usul Manfaatkan Tanah Ulayat Negeri
Patrick menawarkan alternatif melalui pemanfaatan tanah ulayat negeri. Menurutnya, tanah adat dapat menjadi pilihan lokasi pembangunan apabila prosesnya dilakukan melalui komunikasi, persetujuan dan kerja sama resmi dengan pemerintah negeri.
“Mungkin dengan skema kerja sama pemanfaatan tanah adat seperti hak pengelolaan dan lain sebagainya. Nah, kuncinya komunikasi dan duduk bersama. Dengan niat yang baik, saya yakin pasti ada jalan keluarnya,” kata Patrick.
Karena itu, ia mendorong Pemkot Ambon mengundang seluruh Upulatu dan Inalatu se-Kota Ambon untuk duduk bersama membahas lokasi terbaik pembangunan sirkuit permanen.
“Solusinya, duduk bersama dengan Upulatu dan Inalatu se-Kota Ambon untuk dibahas lebih lanjut,” ujarnya.
Patrick menegaskan, persoalan ketersediaan lahan seharusnya tidak menjadi alasan untuk memilih lokasi yang belum tentu memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat dan daerah.
“Jangan karena tidak ada tanah lalu diputuskan akan dibangun di lokasi yang potensi pariwisatanya kurang. Padahal Pemkot bisa undang raja-raja untuk bicara dan putuskan lokasi pembangunan sirkuit permanen untuk kota ini,” ucapnya.
Ia pada prinsipnya mengapresiasi langkah Pemkot Ambon mendorong pembangunan sirkuit sebagai bagian dari pengembangan olahraga otomotif.
Namun, Patrick berharap proyek tersebut dirancang bukan hanya sebagai arena balap, melainkan menjadi magnet baru pariwisata dan ekonomi Kota Ambon.
Dengan perencanaan yang matang, menurutnya, satu proyek sirkuit dapat memberikan banyak manfaat sekaligus: menghidupkan otomotif, menarik wisatawan, menggerakkan UMKM, membuka lapangan kerja dan meningkatkan PAD.
“Prinsipnya kami mendukung. Tetapi sebelum dibangun, mari pastikan lokasi dan perencanaannya benar-benar tepat, sehingga sirkuit ini nantinya bukan hanya menjadi kebanggaan otomotif, tetapi juga memberikan manfaat besar bagi Kota Ambon,” pungkasnya.
(dp-53)













