Ambon, Dharapos.com – Diskusi Panel Kuliah Kerja Dalam Negeri (KKDN) Pendidikan Reguler Seskoal Angkatan ke 65 Tahun 2026 berlangsung selama dua hari, 31 Maret – 1 April 2026.
Mengusung tema “Kebijakan dan Strategi Pengelolaan Sumber Daya Nasional untuk Pertahanan Negara di Laut: Tinjauan Kritis pada Kawasan Perbatasan Strategis”, berlangsung di gedung Jos Soedarso Seskoal, Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
Di momen itu, Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa hadir bersama sejawatnya dari Maluku Utara, Sherly Laos.
Gubernur Lewerissa dalam materinya memaparkan strategi pembangunan daerah khususnya dalam bidang ekonomi.
Dikatakan, Pemerintah Provinsi Maluku menerapkan berbagai strategi ekonomi biru termasuk pengembangan Maluku Integrated Port, penguatan sektor perikanan, pengembangan Blok Masela, serta peningkatan konektivitas antarwilayah.
Secara geografis, Maluku memiliki posisi strategis dengan 1.388 pulau dan 92,4 persen wilayah berupa laut, serta berada di jalur Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) III dan berbatasan langsung dengan kawasan internasional.
Menurutnya, kebijakan pembangunan maritim Maluku dirancang sebagai instrumen strategis yang memiliki dua fungsi utama, yakni memperkuat kedaulatan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Di satu sisi, kebijakan ini menjadi perisai untuk menjaga kedaulatan NKRI. Di sisi lain, menjadi motor penggerak kesejahteraan masyarakat dengan menjadikan laut sebagai sumber kehidupan dan kemakmuran,” jelasnya.
Lewerissa juga memaparkan bahwa Maluku memiliki potensi besar dalam sektor perikanan nasional, dengan kontribusi signifikan dari tiga Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) yang mencakup Laut Banda, Laut Seram, hingga Laut Arafura.
Namun demikian, diakuinya masih adanya tantangan serius, termasuk praktik illegal fishing, destructive fishing, serta tingginya biaya logistik yang berdampak pada kesenjangan pembangunan.
“Kita menghadapi paradoks, di mana kekayaan sumber daya alam yang melimpah belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya.
Dalam konteks wilayah perbatasan, Maluku memiliki 19 pulau kecil terluar yang memerlukan pendekatan pembangunan terintegrasi. Pemda mendorong transformasi kawasan perbatasan menjadi “sabuk kemakmuran”.
“Kami ingin mengubah kawasan perbatasan dari beranda belakang yang terisolasi menjadi kawasan yang hidup dan sejahtera,” kata Lewerissa.
Selain itu, kolaborasi antara pemerintah daerah dan TNI AL dinilai menjadi kunci dalam memperkuat keamanan laut dan percepatan pembangunan kawasan strategis.
“Kolaborasi ini tidak hanya pada aspek keamanan, tetapi juga mencakup pembangunan wilayah, konektivitas, dan pemberdayaan masyarakat pesisir,” ujarnya.
Lewerissa menegaskan bahwa pembangunan maritim Maluku diarahkan untuk menjadikan laut sebagai sumber kedaulatan dan kesejahteraan.
“Kita tidak hanya membangun wilayah, tetapi juga memperkuat garis pertahanan bangsa. Karena di laut itulah kedaulatan diuji, dan di sanalah Indonesia harus tegak tanpa kompromi,” tegasnya.
Lewerissa juga menekankan pentingnya sinkronisasi arah kebijakan pembangunan daerah dengan pengelolaan sumber daya nasional dalam mendukung pertahanan maritim Indonesia, khususnya di kawasan perbatasan strategis dan daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).
“Momen ini adalah suatu kehormatan bagi saya. Forum ini merupakan momentum penting untuk memperkuat sinergi antara arah pembangunan daerah dengan kepentingan strategis nasional, khususnya dalam memperkokoh pertahanan maritim Indonesia,” ujarnya
Lewerissa secara khusus menyoroti tema yang diangkat dalam diskusi panel ini. Hal ini sangat relevan dengan kondisi geografis Maluku sebagai provinsi kepulauan yang memiliki peran penting dalam menjaga kedaulatan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Dijelaskan bahwa berdasarkan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2019, Sistem Pertahanan Negara bersifat semesta dan melibatkan seluruh sumber daya nasional
“Kekuatan pertahanan tidak hanya bertumpu pada militer, tetapi juga pada kekuatan ekonomi, sumber daya manusia, serta infrastruktur nasional,” tukasnya.
Kegiatan ini turut dihadiri Komandan Seskoal, Laksamana Muda (TNI) Ariantyo Condrowibowo, pimpinan dan jajaran Sekolah Staff dan Komando Angkatan Laut.
(dp-19)













