Politik dan Pemerintahan

Panitia Lasqi Tegaskan Tak Pernah Kontrak dengan Ustad Rifqi

10
×

Panitia Lasqi Tegaskan Tak Pernah Kontrak dengan Ustad Rifqi

Sebarkan artikel ini
Putih dan Oren Minimalis Piagam Penghargaan Sertifikat 20260902 012847 0000

Ambon, Dharapos.com – Panitia Lasqi Nusantara Jaya Fest 2026 akhirnya angkat bicara menanggapi pernyataan Ustad Rifqi yang mengaku kecewa dan merasa sebagai ulama serta tokoh agama dikesampingkan dalam pelaksanaan Lasqi Bersalawat.

Panitia menilai pernyataan tersebut keliru dan tidak sesuai dengan fakta yang terjadi. Pasalnya, keterlibatan Ustad Rifqi sejak awal hanya sebatas komunikasi dan koordinasi, tanpa pernah ada kontrak maupun kesepakatan kerja sama.

Hal tersebut ditegaskan Panitia Lasqi Nusantara Jaya Fest 2026, Ari Hulopy, kepada wartawan, Rabu (2/9/2026).

Ari menjelaskan, jauh sebelum festival digelar, panitia telah menyampaikan kepada seluruh kecamatan bahwa rangkaian kegiatan Lasqi Nusantara Jaya Fest 2026 akan diisi dengan sejumlah agenda, termasuk Qasidah Ria yang melibatkan ibu-ibu pengajian serta Lasqi Bersalawat.

“Kebetulan ini diadakan di bulan Maulid dan menjelang HUT Kota Ambon, supaya sama-sama didoakan,” ungkapnya.

Dalam proses persiapan, panitia kemudian berkoordinasi dengan Ustad Rifqi untuk kemungkinan memimpin Lasqi Bersalawat. Namun, menurut Ari, pembicaraan tersebut tidak berujung pada kesepakatan karena persoalan anggaran.

Ia menyebut, dalam komunikasi tersebut terdapat permintaan anggaran sebesar Rp10 juta untuk pribadi. Sementara apabila melibatkan tim, anggaran yang diminta mencapai Rp15 juta.

“Karena budget-nya besar, panitia tidak bisa menerima. Terkait koordinasi lanjutan, saya tidak tahu apakah ada pembatalan atau bagaimana. Tapi yang jelas tidak ada kontrak kerja sama, karena masih sebatas koordinasi,” tegas Ari.

Dengan tidak tercapainya kesepakatan, panitia kemudian memutuskan menggunakan ustad lain untuk memimpin Lasqi Bersalawat. Ari menegaskan keputusan tersebut bukan bentuk mengesampingkan pihak tertentu, tetapi karena memang tidak pernah ada kesepakatan yang mengikat.

“Kalau tidak ada kesepakatan untuk dilanjutkan, artinya tidak jadi,” katanya.

Ia menambahkan, ustad yang kemudian dilibatkan dalam kegiatan tersebut tidak meminta honor khusus. Panitia hanya memfasilitasi makan dan minum serta memberikan uang transportasi.

“Alhamdulillah, mereka tidak meminta apa-apa. Kami hanya fasilitasi makan, minum dan uang transport,” jelasnya.

IMG 20260902 WA0000

Ari juga membantah anggapan bahwa konsep Lasqi Bersalawat merupakan ide pribadi Ustad Rifqi yang kemudian tidak dihargai panitia. Menurutnya, konsep tersebut telah dirancang sejak awal sebagai bagian dari rangkaian festival.

Bahkan, kata dia, rancangan Lasqi Bersalawat dibuat setelah Ketua DPD Lasqi kota ambon terinspirasi oleh Lasqi bersalawat yang dilakukan oleh DPP Lasqi saat Festival tingkat nasional 2025 di kabupaten bogor.

“Lasqi Bersalawat itu sudah kami rancang sesuai arahan Ketua DPD Lasqi Kota ambon, itu konsepnya Ketua DPD lasqi kota ambon, bukan konsep Ustad Rifky,” ujarnya.

Karena itu, Ari kembali menegaskan bahwa hubungan panitia dengan Ustad Rifqi tidak pernah sampai pada tahap kesepakatan atau kontrak.

“Intinya, Lasqi Kota Ambon bersama beliau hanya sebatas koordinasi. Tidak ada tanda tangan kontrak atau kesepakatan,” tandasnya.

Ari pun meminta Ustad Rifqi memberikan klarifikasi atas pernyataannya di media. Ia berharap persoalan tersebut tidak berkembang menjadi kesalahpahaman yang dapat merugikan nama baik Lasqi Nusantara Jaya Kota Ambon.

“Beta meminta kepada ustad kalau bisa mengklarifikasi pernyataan di media itu,” pintanya.

Menurut Ari, Lasqi bukan sekadar penyelenggara festival, tetapi juga wadah pembinaan generasi muda Muslim di Kota Ambon untuk mengembangkan bakat dan talenta mereka.

“Kita sepatutnya saling menghargai. Apalagi beliau sebagai ulama, semestinya menyampaikan sesuatu harus berpikir dan konfirmasi dulu,” tegasnya.

Ia menilai, pernyataan yang tidak sesuai fakta berpotensi mencoreng nama baik Lasqi sekaligus Pemerintah Kota Ambon karena Lasqi merupakan bagian dari pemerintah daerah.

“Lasqi ini bagian dari Pemerintah Kota Ambon. Jangan sampai persoalan seperti ini mencoreng nama baik Lasqi maupun Pemerintah Kota Ambon,” ujarnya.

Ari menegaskan, panitia tidak akan mempersoalkan apabila sebuah koordinasi tidak berujung pada kesepakatan. Namun, menurutnya, persoalan akan berbeda apabila sudah ada kontrak kerja sama kemudian salah satu pihak tidak menjalankan kewajibannya.

“Kalau panitia tidak melakukan koordinasi, itu hal biasa. Tapi kalau kami melakukan kontrak lalu kami tidak menghadirkan beliau, itu baru kami kurang ajar. Ini kan tidak ada kontrak,” pungkasnya.

Ia kembali berharap Ustad Rifqi dapat memberikan klarifikasi agar persoalan tersebut tidak terus berkembang dan merusak nama baik Lasqi Nusantara Jaya Kota Ambon.

(dp-53) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *