Politik dan PemerintahanPendidikan

Tiga Ruangan Rusak Jadi Sorotan Komisi II, Kepsek SD Negeri 1 Latuhalat: Itu Milik Kami, Bukan SD Negeri 2!

6
×

Tiga Ruangan Rusak Jadi Sorotan Komisi II, Kepsek SD Negeri 1 Latuhalat: Itu Milik Kami, Bukan SD Negeri 2!

Sebarkan artikel ini
1 20261107 062400 0000

Ambon, Dharapos.com – Persoalan tiga ruangan rusak di kawasan sekolah Latuhalat, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon, menjadi perhatian setelah Komisi II DPRD Kota Ambon melakukan peninjauan langsung atau on the spot ke SD Negeri 2 Latuhalat pada 3 November 2026.

Namun, kunjungan tersebut menyisakan kekecewaan bagi Kepala Sekolah SD Negeri 1 Latuhalat, Georgine Kakisina. Pasalnya, ia mengaku tidak diberitahu maupun dilibatkan dalam peninjauan tiga ruangan yang menjadi sasaran rencana bantuan renovasi tersebut.

Georgine menegaskan, ketiga ruangan yang mengalami kerusakan itu merupakan bagian dari bangunan milik SD Negeri 1 Latuhalat, bukan SD Negeri 2 Latuhalat sebagaimana yang dipersoalkan.

Kepada Dharapos.com di Ambon, Jumat (6/11/2026), Georgine mengaku terkejut mengetahui adanya kunjungan anggota dewan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepadanya selaku kepala sekolah yang bertanggung jawab atas bangunan tersebut.

Menurutnya, persoalan utama bukan pada upaya renovasi, melainkan tidak adanya koordinasi dengan pihak SD Negeri 1 Latuhalat. Padahal, sekolahnya juga telah berupaya mengusulkan perbaikan bangunan melalui program revitalisasi pemerintah.

“Bangunan rusak itu notabene adalah milik SD Negeri 1 Latuhalat. Secara tidak langsung, kami juga sudah berusaha memberikan masukan dan mengusulkan melalui dana revitalisasi di Dapodik,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, pihak SD Negeri 1 Latuhalat telah mengusulkan perbaikan melalui sistem Dapodik. Bahkan, bangunan tersebut sudah ditinjau oleh pihak Dinas Pendidikan Kota Ambon.

Berdasarkan informasi yang diterimanya, SD Negeri 1 Latuhalat juga telah masuk dalam perankingan untuk mendapatkan bantuan dana revitalisasi.

“Katong sudah usulkan lewat Dapodik sekolah dan juga sudah ditinjau oleh pihak Dinas Pendidikan. Informasi yang beta dapat, SD Negeri 1 Latuhalat masuk dalam perankingan untuk dana revitalisasi itu,” jelasnya.

Sebelumnya, Komisi II DPRD Kota Ambon melakukan peninjauan langsung ke SD Negeri 2 Latuhalat pada 3 November 2026 untuk melihat kondisi bangunan sekolah yang mengalami kerusakan, termasuk tiga ruangan yang direncanakan mendapat perhatian untuk renovasi.

Selanjutnya, dalam rapat bersama Dinas Pendidikan Kota Ambon pada 4 November 2026, persoalan kondisi sarana dan prasarana pendidikan serta usulan bantuan revitalisasi turut menjadi perhatian.

Dalam rapat tersebut terungkap sebanyak 93 sekolah telah masuk dalam sistem usulan program revitalisasi pemerintah pusat. Meski demikian, masuknya sekolah dalam daftar usulan belum menjamin seluruhnya memperoleh bantuan.

Georgine menegaskan, SD Negeri 1 Latuhalat juga memiliki kepentingan langsung terhadap rencana perbaikan tiga ruangan tersebut. Sebab, menurutnya, ketiga ruangan itu sejak awal merupakan bagian dari fasilitas sekolah yang dipimpinnya.

Ia menjelaskan, SD Negeri 1 Latuhalat berdiri sejak 1954, sedangkan SD Negeri 2 Latuhalat baru berdiri pada 1970.

Ketiga ruangan tersebut, lanjutnya, telah digunakan selama puluhan tahun. Bahkan, sebelumnya ruangan itu dipinjamkan kepada SD Negeri 2 Latuhalat karena keterbatasan ruang belajar di sekolah tersebut.

“Yang beta sesalkan, mereka tidak mengonfirmasi kepada saya bahwa ada kunjungan untuk melihat ketiga ruangan yang mau direnovasi, yang notabene adalah milik SD Negeri 1 Latuhalat,” katanya.

Ia berharap, ke depan seluruh pihak dapat membangun komunikasi dan koordinasi yang lebih baik agar persoalan tersebut tidak berkembang menjadi konflik antara kedua sekolah.

“SD Negeri 1 Latuhalat ini berdiri paling lama, tahun 1954, sedangkan SD Negeri 2 Latuhalat berdiri tahun 1970. Oleh karena itu, mari katong saling bekerja sama dan saling berkoordinasi. Saya sebagai tuan rumah merasa tidak dihargai,” tegasnya.

Selain persoalan koordinasi, Georgine juga mengungkapkan bahwa selama ini sejumlah guru SD Negeri 1 Latuhalat kerap mendapatkan tekanan dan komentar tidak menyenangkan melalui media sosial.

Ia pun meminta agar tindakan tersebut dihentikan dan tidak lagi diarahkan kepada para guru yang berada di bawah tanggung jawabnya.

“Stop untuk menekan teman-teman saya. Berhentilah, karena selama ini saya juga tidak pernah mengata-ngatai atau marah kepada saudara (Kepala Sekolah SD Negeri 2 Latuhalat),” ujarnya.

Georgine menegaskan, keberatannya bukan berarti dirinya tidak mendukung renovasi bangunan. Sebaliknya, ia juga telah berupaya agar ketiga ruangan yang rusak tersebut mendapatkan perhatian pemerintah.

“Saya cuma mewujudkan rasa kesal saya. Kenapa tidak diinformasikan kepada saya? Saya juga sudah berusaha. Tidak mungkin saya melihat ruangan itu rusak begitu saja tanpa melakukan upaya perbaikan,” tuturnya.

Untuk memperjelas persoalan tersebut, Georgine menyatakan akan menyampaikan persoalan ini kepada Kepala Dinas Pendidikan Kota Ambon dan selanjutnya kepada Ketua DPRD Kota Ambon.

Langkah tersebut dilakukan untuk meminta kejelasan mengenai status tiga ruangan yang menurutnya merupakan bagian dari SD Negeri 1 Latuhalat, tetapi diklaim sebagai milik SD Negeri 2 Latuhalat.

Ia berharap persoalan ini dapat diselesaikan secara terbuka dan melalui koordinasi yang baik, sehingga rencana bantuan renovasi tetap berjalan tanpa menimbulkan konflik berkepanjangan antara kedua sekolah.

(dp-53) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *