Ambon, Dharapos.com – Ketua TP-PKK Kota Ambon, Lisa Wattimena bersama pengurus TP-PKK dan jajaran Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Masyarakat Desa (DP3AMD) Kota Ambon menggelar sosialisasi pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak di SMP Negeri 19 Ambon, Senin (22/6/2026).
Kegiatan yang diikuti para guru dan siswa-siswi tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman tentang pentingnya pola asuh yang tepat dalam membentuk karakter anak sekaligus menjadi benteng utama mencegah berbagai bentuk kekerasan, termasuk kekerasan seksual, pelecehan seksual, dan pengaruh negatif pergaulan bebas.
Dalam paparannya, Lisa menegaskan bahwa keluarga memiliki peran sentral dalam membentuk kepribadian anak. Menurutnya, pola asuh atau parenting merupakan cara orang tua mendidik, mengasuh, dan membimbing anak agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, baik secara fisik, emosional, maupun sosial.
“Pola asuh atau parenting adalah cara orang tua mendidik, mengasuh, dan membimbing anak-anak mereka. Pola asuh yang efektif dapat membantu anak-anak tumbuh dan berkembang dengan baik, baik secara fisik, emosi, maupun sosial,” ujar Lisa.
Ia menjelaskan terdapat empat jenis pola asuh yang umum diterapkan dalam keluarga, yakni pola asuh otoriter, otoritatif, permisif, dan menelantar.
Pola asuh otoriter, jelasnya, ditandai dengan kontrol yang ketat dan tuntutan kepatuhan dari orang tua. Pola ini dapat membentuk anak yang penurut, namun juga berpotensi menimbulkan stres, kecemasan, serta menurunkan rasa percaya diri.
Sementara itu, pola asuh otoritatif dinilai sebagai pola yang lebih ideal karena memberikan keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab. Orang tua memberikan kesempatan kepada anak untuk menyampaikan pendapat, berdiskusi, serta terlibat dalam pengambilan keputusan sehingga mampu membentuk anak yang mandiri, percaya diri, dan memiliki kemampuan sosial yang baik.
Adapun pola asuh permisif cenderung memberikan kebebasan berlebihan tanpa batasan yang jelas sehingga dapat membuat anak kurang disiplin, kurang bertanggung jawab, dan kesulitan mengendalikan diri. Sedangkan pola asuh menelantar ditandai dengan minimnya perhatian dan dukungan orang tua terhadap kebutuhan anak yang berisiko menghambat perkembangan sosial, emosional, dan kognitif serta meningkatkan kerentanan terhadap gangguan kesehatan mental.
Selain membahas pola pengasuhan, Lisa juga mengingatkan para siswa untuk mewaspadai berbagai bentuk kekerasan, termasuk kekerasan seksual dan pelecehan seksual, baik yang terjadi di lingkungan sekitar maupun melalui media digital.
Menurutnya, anak-anak perlu dibekali pemahaman sejak dini agar mampu mengenali tindakan yang tidak pantas, berani menolak, serta segera melapor kepada orang tua, guru, atau orang dewasa yang dipercaya apabila mengalami atau menyaksikan tindakan kekerasan.
“Anak-anak harus memahami bahwa tubuh mereka berharga dan tidak boleh disentuh oleh siapa pun tanpa izin. Jika ada tindakan yang membuat mereka merasa tidak nyaman, takut, atau terancam, maka mereka harus berani berkata tidak dan segera mencari pertolongan kepada orang tua, guru, atau orang dewasa yang dipercaya,” tegasnya.
Lisa juga mengajak para siswa untuk bijak dalam memilih pergaulan, baik di lingkungan sekolah maupun di media sosial. Ia menilai pergaulan bebas dapat berdampak buruk terhadap masa depan anak, mulai dari menurunnya prestasi belajar hingga meningkatkan risiko menjadi korban maupun pelaku kekerasan.
“Setiap jenis pola asuh dapat memiliki dampak yang berbeda pada anak-anak. Karena itu, sangat penting bagi orang tua untuk menemukan pola asuh yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan anak-anak,” tandas Lisa.
Melalui kegiatan tersebut, TP-PKK Kota Ambon berharap kesadaran para guru, siswa, orang tua, dan masyarakat semakin meningkat dalam menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang anak sebagai generasi penerus yang sehat, cerdas, berkarakter, dan berdaya saing.
(dp-53)













