Ambon, Dharapos.com – Asap ikan bakar mengepul di tepian Jembatan Amerika, Negeri Laha, Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon. Aroma ikan yang dibakar bercampur dengan nasi kelapa, sementara aktivitas warga di sejumlah lapak mulai terlihat semakin ramai.
Di tempat ini, ikan bukan satu-satunya cerita.
Ada cerita tentang sampah yang dikumpulkan dari lingkungan sekitar dan laut, kemudian dipadatkan menjadi ecobrick. Ada cerita tentang para pemuda yang mulai mengambil peran mengembangkan desa wisata. Dan ada pula cerita tentang ibu-ibu yang kini memiliki ruang lebih luas untuk berjualan.
Yang paling terasa adalah perubahan pada pendapatan.
“Kalau dulu mereka berjualan Rp400 ribu sehari, sekarang bisa Rp1 jutaan per orang,” kata CDO Pertamina Patra Niaga Aviation Fuel Terminal (AFT) Pattimura, Anisa Salsabila, kepada wartawan di lokasi tempat makan ikan bakar, Jembatan Amerika, Negeri Laha, Ambon, Kamis (1/10/2026).
Perubahan itu tidak datang dalam semalam.
Sebelum kawasan tersebut berkembang menjadi tempat kuliner, lokasi itu lebih banyak dikenal sebagai tempat pelelangan ikan. Sejumlah ibu membeli ikan dari lokasi tersebut untuk kemudian dijual kembali ke pasar.
Sejak 2025, Pertamina Patra Niaga melalui program CSR Lau Sabua Manise mulai mendorong pengembangan kawasan tersebut bersama masyarakat.
Langkah awalnya justru menyentuh persoalan yang sering menjadi tantangan di kawasan pesisir: sampah.
Masyarakat, khususnya kelompok pemuda, didorong untuk mengumpulkan sampah dan mengolahnya menjadi ecobrick. Material tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai bagian dari pembangunan food stall di kawasan desa wisata.
“Jadi program ini dari masyarakat mengumpulkan sampah, mengurangi timbulan sampah yang ada di masyarakat, kemudian bermanfaat untuk pembangunan food stall di sini,” ujar Anisa.
Setiap hari, sampah yang dikelola masyarakat bisa mencapai sekitar 200 kilogram. Bukan hanya sampah dari lingkungan sekitar yang dikumpulkan, tetapi juga sampah kiriman dari laut.
Di sinilah perubahan itu mulai terlihat. Sampah yang sebelumnya berpotensi menjadi beban lingkungan diubah menjadi material yang memiliki fungsi.
Program Lau Sabua Manise juga tidak berhenti pada persoalan lingkungan. Setelah food stall dibangun, kawasan yang sebelumnya lebih banyak digunakan untuk aktivitas pelelangan ikan mulai memiliki fungsi baru.
Warga dari luar Laha mulai berdatangan menikmati kuliner sekaligus suasana desa wisata.
“Dulu hanya beberapa orang ibu yang menjual ikan, sekarang sudah banyak yang berjualan bahkan nasi kelapa di sini laku keras,” kata Anisa.
Sekitar 20 pemuda Negeri Laha juga ikut dilibatkan dalam pengembangan desa wisata.
Pertamina, kata Anisa, terus mengadvokasi kelompok pemuda agar mereka bersama-sama mengambil bagian dalam mengembangkan potensi wisata di Negeri Laha.
“Kelompok pemuda Negeri Laha ada sekitar 20-an orang. Kita mengadvokasi pemuda untuk sama-sama mengembangkan desa wisata Laha,” ujarnya.
Di balik perubahan itu, ada cerita warga yang merasakan langsung manfaat dari pengelolaan sampah.
Pengakuan datang dari Mama Fatma Latuconsina (45), seorang ibu rumah tangga yang sebelumnya bekerja sebagai pekebun. Kini, di sela aktivitasnya, Fatma mendapatkan penghasilan tambahan dari mengolah sampah menjadi ecobrick.
Bagi Fatma, sampah yang selama ini kerap dianggap tidak memiliki nilai justru mulai mendatangkan penghasilan.
Ia mengaku, kegiatan tersebut memberikan dampak positif bagi perekonomian keluarganya. Setiap ecobrick yang dibuat dan dijual dapat menghasilkan uang.
“Dari satu botol yang kita buat bisa menghasilkan Rp15 ribu. Bayangkan saja kalau yang terjual banyak,” ujarnya.
Penghasilan tersebut menjadi tambahan yang berarti bagi Fatma. Ia tidak lagi hanya mengandalkan hasil dari aktivitas berkebun, tetapi memiliki sumber pendapatan lain dari sesuatu yang sebelumnya dianggap sebagai sampah.
Menurutnya, perubahan cara pandang masyarakat terhadap sampah menjadi hal penting agar program tersebut dapat terus berkembang.
Karena itu, Fatma mengimbau masyarakat Negeri Laha untuk meningkatkan kesadaran menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan.
Ia berharap semakin banyak masyarakat yang terlibat dalam pengelolaan sampah, sehingga persoalan lingkungan dapat dikurangi sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi warga.
Fatma juga menyampaikan apresiasi kepada Pertamina Patra Niaga yang telah hadir dan membantu masyarakat melalui program tersebut.
“Terima kasih kepada Pertamina yang sudah membantu kami masyarakat di sini. Dengan adanya program ini, kami bukan saja dibantu untuk menjaga lingkungan, tetapi juga bisa mendapatkan penghasilan tambahan,” katanya.
Bagi Fatma, ecobrick bukan sekadar botol yang diisi sampah. Di dalamnya ada nilai ekonomi, kepedulian terhadap lingkungan, sekaligus kesempatan bagi ibu rumah tangga seperti dirinya untuk ikut mengambil bagian dalam perubahan di Negeri Laha.
Perubahan di Laha berlangsung dalam konteks potensi wisata yang memang telah dimiliki negeri tersebut.
Pada 2024, Negeri Laha masuk dalam 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) setelah melewati proses kurasi dari ribuan desa yang mendaftar. Laha kemudian meraih Juara III kategori Desa Wisata Berkembang.
Potensi Laha tidak hanya berada pada kuliner. Negeri ini memiliki daya tarik wisata bawah laut dan kekayaan adat serta budaya yang menjadi modal dalam pengembangan wisata berbasis masyarakat.
Karena itu, pengelolaan sampah, pembangunan fasilitas kuliner dan keterlibatan masyarakat menjadi bagian yang saling berkaitan.
Wisatawan datang karena ada daya tarik. Warga memperoleh peluang berjualan. Lingkungan dijaga karena sampah memiliki nilai guna. Pemuda mendapatkan ruang untuk terlibat. Dan hasil laut yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat mendapatkan pasar yang lebih luas.
Anisa mengatakan pendampingan Pertamina tidak berhenti pada pembangunan food stall dan gapura.
Program tersebut telah berjalan sekitar dua tahun, tetapi secara keseluruhan pendampingan direncanakan berlangsung selama lima tahun.
Tahap berikutnya bahkan diarahkan pada pengembangan rumah produksi ikan.
Jika selama ini ikan lebih banyak dijual dalam kondisi utuh atau dibakar, ke depan masyarakat, khususnya para ibu, akan didorong mengembangkan ikan menjadi produk olahan.
“Nanti kami akan mengajarkan ibu-ibu di sini untuk mengelola ikan sebagai produk olahan dan dijual seperti oleh-oleh,” jelasnya.
Rencana itu membuka kemungkinan baru bagi hasil laut Laha. Ikan tidak hanya berhenti sebagai menu makan siang atau makan malam, tetapi dapat berubah menjadi produk yang bisa dibawa pulang dan dipasarkan dalam bentuk olahan.
Dengan demikian, rantai ekonominya menjadi lebih panjang.
Nelayan mendapatkan pasar. Ibu-ibu mendapatkan kesempatan mengolah dan menjual. Pemuda terlibat dalam pengembangan wisata. Pengunjung mendapatkan pilihan kuliner. Sementara sampah yang dihasilkan dari lingkungan sekitar mulai diarahkan untuk dimanfaatkan kembali.
Dari tempat yang awalnya hanya menjadi lokasi pelelangan ikan, perlahan tumbuh sebuah ruang ekonomi baru.
Dan di tengah perubahan itu, ada angka yang sederhana untuk menggambarkan dampaknya.
Rp400 ribu.
Itulah pendapatan harian yang disebut Anisa pernah diperoleh sejumlah warga sebelum kawasan ini berkembang.
Kini, menurutnya, angka tersebut dapat mencapai sekitar Rp1 juta per orang dalam sehari.
Sementara bagi Fatma, satu botol ecobrick dapat menghasilkan Rp15 ribu.
Angka-angka itu menunjukkan bahwa perubahan di Laha tidak hanya berbicara tentang pembangunan fisik. Ada nilai ekonomi yang mulai dirasakan langsung oleh masyarakat.
Di Laha, ikan tetap menjadi kekuatan utama. Laut tetap menjadi sumber kehidupan. Tetapi kini sampah pun mendapatkan peran baru.
Dari sesuatu yang dibuang, menjadi ecobrick.
Dari ecobrick, menjadi bagian dari tempat usaha.
Dari tempat usaha, lahir keramaian.
Dari keramaian itu, muncul kesempatan baru bagi warga untuk mendapatkan penghasilan.
Cerita Laha akhirnya bukan hanya tentang desa wisata. Ini tentang bagaimana lingkungan, pemuda, perempuan, hasil laut dan ekonomi masyarakat dipertemukan dalam satu ruang.
Di bawah Jembatan Amerika, ikan bakar mungkin menjadi alasan orang datang.
Tetapi perubahan yang terjadi di sana membuat warga memiliki alasan untuk terus mengelola dan mengembangkan tempat mereka sendiri.
(dp-53)














