Politik dan Pemerintahan

TP-PKK dan DP3AMD Kota Ambon Perkuat Pencegahan Kekerasan, Edukasi Pola Asuh dan Literasi Digital di SMPN 18 Ambon

5
×

TP-PKK dan DP3AMD Kota Ambon Perkuat Pencegahan Kekerasan, Edukasi Pola Asuh dan Literasi Digital di SMPN 18 Ambon

Sebarkan artikel ini
IMG 20260728 115647 121 scaled
0-4096x3072-0-0-{}-0-24#bokehtype:0#;ts:294377617420880;appts:1785207407121;uid:0;qlty:1;illum:2 scene:2 humanIn:4;

Ambon, Dharapos.com – Tim Penggerak PKK (TP-PKK) Kota Ambon bersama Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Masyarakat dan Desa (DP3AMD) Kota Ambon menggelar sosialisasi Pola Asuh Anak dan Pencegahan Kekerasan di SMP Negeri 18 Ambon, Negeri Ema, Selasa (28/7/2026). Kegiatan ini diikuti para orang tua, guru, dan siswa sebagai upaya meningkatkan pemahaman tentang pentingnya perlindungan anak di lingkungan keluarga, sekolah, maupun ruang digital.

Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan DP3AMD Kota Ambon, Adriana Sakliressy, menyampaikan materi mengenai literasi digital dan pencegahan kekerasan seksual berbasis online. Menurutnya, perkembangan teknologi informasi telah membawa banyak manfaat, namun juga menyimpan berbagai ancaman apabila tidak digunakan secara bijak.

Dalam pemaparannya, Adriana mengungkapkan bahwa kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Ambon masih menjadi perhatian serius. Berdasarkan data yang dipaparkan, pada 2024 tercatat 73 kasus kekerasan terhadap perempuan dan 56 kasus kekerasan terhadap anak. Jumlah tersebut meningkat pada 2025 menjadi 81 kasus kekerasan terhadap perempuan dan 59 kasus kekerasan terhadap anak. Sementara hingga Juni 2026, telah tercatat 70 kasus kekerasan terhadap perempuan dan 44 kasus kekerasan terhadap anak.

Ia menegaskan, tingginya angka tersebut menunjukkan bahwa perlindungan terhadap perempuan dan anak harus menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat.

Adriana menjelaskan bahwa internet ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi menjadi sarana belajar, mencari informasi, mengembangkan kreativitas, dan memperluas wawasan. Namun di sisi lain, internet juga dapat menjadi pintu masuk berbagai ancaman, seperti perundungan siber (cyberbullying), penipuan daring, paparan konten pornografi, eksploitasi seksual berbasis online, hingga kecanduan gawai yang dapat memengaruhi kesehatan mental, prestasi belajar, dan kehidupan sosial anak.

Ia juga mengingatkan bahwa setiap aktivitas di media sosial akan meninggalkan jejak digital yang dapat berdampak pada masa depan seseorang.

“Kami mengajak anak-anak menggunakan internet untuk hal-hal yang positif. Jangan mudah percaya kepada orang yang baru dikenal di media sosial, jangan membagikan data pribadi, foto, maupun lokasi kepada orang yang tidak dikenal. Jika mengalami atau mengetahui adanya kekerasan, segera laporkan kepada orang tua, guru, atau pihak berwenang. Jangan memendam masalah sendiri,” imbau Adriana.

Kepada para orang tua, Adriana mengajak agar lebih aktif mendampingi anak dalam menggunakan gawai dan internet. Menurutnya, pengawasan bukan berarti membatasi, tetapi memberikan perlindungan agar anak terhindar dari berbagai bentuk kejahatan digital.

“Luangkan waktu untuk mendengar cerita anak, kenali lingkungan pergaulannya, termasuk di dunia maya. Orang tua harus menjadi sahabat bagi anak sehingga mereka merasa aman untuk bercerita. Pencegahan kekerasan dimulai dari rumah melalui pola asuh yang penuh kasih sayang, perhatian, dan pengawasan,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua TP-PKK Kota Ambon, Lisa Wattimena, memberikan materi Parenting “Belajar untuk Jadi Orang Hebat”. Ia menegaskan bahwa keluarga merupakan sekolah pertama dan utama dalam membentuk karakter, moral, serta kepribadian anak.

Lisa menjelaskan bahwa terdapat beberapa jenis pola asuh yang umum diterapkan dalam keluarga, yakni pola asuh otoriter, permisif, demokratis (otoritatif), dan pola asuh abai (neglectful).

Menurutnya, pola asuh otoriter ditandai dengan aturan yang sangat ketat dan minim komunikasi sehingga anak cenderung tumbuh dalam tekanan dan takut menyampaikan pendapat. Sebaliknya, pola asuh permisif memberikan kebebasan yang berlebihan tanpa batasan yang jelas sehingga anak berisiko kurang disiplin dan sulit memahami tanggung jawab.

Sementara itu, pola asuh abai terjadi ketika orang tua kurang memberikan perhatian, kasih sayang, maupun pendampingan kepada anak. Kondisi tersebut dapat membuat anak merasa kesepian, kehilangan arah, dan lebih rentan terpengaruh lingkungan maupun media sosial.

Karena itu, Lisa mendorong para orang tua menerapkan pola asuh demokratis atau otoritatif, yakni pola asuh yang mengedepankan kasih sayang, komunikasi dua arah, disiplin yang konsisten, serta memberikan ruang bagi anak untuk menyampaikan pendapat tanpa menghilangkan batasan dan tanggung jawab.

“Anak bukan hanya membutuhkan kebutuhan materi, tetapi juga perhatian, kasih sayang, dan kehadiran orang tua. Jadilah sahabat bagi anak, dengarkan mereka, berikan teladan yang baik, dan bangun komunikasi yang terbuka agar anak merasa aman untuk bercerita,” ujar Lisa.

Ia menambahkan, di era digital saat ini, pola asuh yang baik juga harus dibarengi dengan pendampingan dalam penggunaan gawai dan media sosial. Orang tua perlu mengajarkan etika berkomunikasi, menghargai orang lain, serta memanfaatkan teknologi sebagai sarana belajar dan mengembangkan potensi diri.

Menurut Lisa, keluarga yang harmonis dengan pola asuh yang tepat akan menjadi benteng pertama dalam mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak serta melahirkan generasi yang sehat, berkarakter, cerdas, dan siap menghadapi tantangan zaman.

Melalui sosialisasi ini, TP-PKK dan DP3AMD Kota Ambon berharap sinergi antara keluarga, sekolah, dan pemerintah semakin kuat dalam menekan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak, sekaligus membangun budaya pengasuhan yang positif demi terwujudnya Kota Ambon yang semakin ramah anak.

(dp-53) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *